Malam Ciwaratri
Berbuat yang selalu berdasarkan dharma tidak segampang membalik telapak tangan. Tantangan atau godaan acapkali menghadang, sehingga untuk melakukan kebajikan itu, harus berani menanggung derita, bahkan mempertaruhkan nyawa. Satu hal yang perlu diingat adalah, agar dapat selalu berbuat berdasarkan dharma, maka harus selalu memelihara kesadarannya.
Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asubha karma (perbuatan yang penuh dosa). Manusia tentu harus menghindari perbuatan yang penuh dosa. Untuk mengetahui perbuatan dosa dan perbuatan yang sesuai dengan dharma dapat dilihat contohnya dalam Itihasa dan Purana. Dalam Mahabharata, Pandawa di bawah tuntunan Sri Krishna selalu berbuat dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Ramayana. Sri Rama selalu bertindak di atas pertimbangan dharma. Sedangkan Rahwana selalu bertindak berdasarkan dorongan hawa nafsu yang menyimpang sama sekali dengan dharma.
Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.
Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memu-satkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagraan”, bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.
Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.
Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekauatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri se-sungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.
Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa dise-butkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.
Sumber Ajaran Siwa Ratri
Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah pendeta di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.
Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak 1966, Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.
Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Dalam Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebutlah, dikisahkanlah seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat kesa-darannya bangkit, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.
Dalam Skanda Purana dituturkan percakapan seseorang bernama Lomasa dengan para rsi. Lomasa menuturkan kejahatan orang bernama Canda yang suka membunuh, dari membunuh binatang sampai brahmana. Namun setelah melakukan tapa brata Siwa Ratri, Canda yang jahat itu akhirnya sadar akan segala perbuatan dosanya dan baru memahami kebenaran. Canda akhirnya menjadi orang suci dan bisa bersatu dengan Tuhan. Dalam Skanda Purana, juga disebutkan tentang tata-cara dan asal-mulanya dilangsungkan upacara Siwa Ratri tersebut.
Sumber Sanskerta yang lain, yaitu Garuda Purana memaparkan upacara Siwa Ratri lebih singkat. Di situ dituturkan tentang Sang-hyang Siwa yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari itrinya (saktinya) yaitu Dewi Parwati. Dewi Parwati bertanya, di antara pelaksanaan brata, apa yang paling utama dilaksanakan agar men-capai kesadaran tinggi tentang nilai hidup Ketuhanan. Sanghyang Siwa menjawab, brata yang paling utama adalah brata Siwa Ratri. Sanghyang Siwa juga menjelaskan tenatang tata-cara brata Siwa Ratri tersebut.
Selain itu, dikisahkan pula seorang raja bernama Sundara Senaka yang berwatak jahat dan kasar. Raja yang disertai anjingnya selalu berburu ke hutan membunuh binatang. Selain itu, beliau juga suka menghamburkan hawa nafsu birahinya. Namun setelah melakukan brata Siwa Ratri, beliau sadar akan semua perbuatan dosanya. Kemudian sang raja meninggalkan kebiasaan buruknya itu, untuk kembali berpegang teguh ke jalan dharma.
Akan halnya dalam Padma Purana, brata Siwa Ratri termuat di bagian Uttarakanda. Di situ dikisahkan dialog Raja Dilipa dengan Rsi Wasistha. Rsi agung ini menjelaskan kepada Dilipa bahwa brata Siwa Ratri adalah brata yang sangat utama. Pelaksanaannya agar dilakukan pada bulan magha dan palguna. Dalam kitab ini dikisahkan seorang pemburu bernama Nisada yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Lubdhaka (dalam bahasa Sanskerta, lubdhaka artinya pemburu). Suatu hari, ketika Nisada berburu ke dalam hutan, ia kemalaman. Untuk menyelamatkan diri dari ancaman binatang buas, ia berlindung di atas pohon yang kebetulan pohon bila. Di bawah pohon itu, ada sebuah telaga. Agar tidak ngantuk dan tertidur (jika tertidur tentu akan jatuh), Nisada memetik-metik daun pohon dan dijatuhkannya pada telaga. Kebetulan di telaga itu ada sebuah lingga Siwa yang terbuat dari kristal. Lingga itulah yang kena daun pohon. Lagi pula, malam itu adalah Purwani Tilem Kepitu atau sehari sebelum tilem ketujuh (tilem yang paling gelap di antara 12 tilem).
Sentuhan daun bila oleh Nisada dipandang sebagai persem-bahan oleh Sanghyang Siwa. Nisada dipandang telah sadar akan dosa-dosa yang pernah dibuatnya. Karena itu, Sanghyang Siwa menerima Nisada di Siwaloka, setelah badan jasmani pemburu itu meninggal. Para peneliti menyimpulkan, Padma Purana inilah yang menjadi sumber karya sastra yang memuat tentang Siwa Ratri yang tersebar di Indonesia.
Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan ber-dasarkan nista, madya, utama. Bentuk pelaksanaan pada tingkat nista dilaksanakan dengan jagra. Jagra artinya sadar. Kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melaksanakan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktivitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama, seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira,” artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan dhyana dalam kitab Sara-samuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa.
Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan. Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakna simbolis untuk memacu, tumbuhnya kesadaran budhi yang sebenarnya.
Bentuk pelaksanaan Siwa Ratri pada tingkat madya adalah dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci.” Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan. Latihan upawasa ini melahirkan sikap yang tidak tergantung pada makanan yang enak. Tubuh mem-butuhkan makanan yang sehat dan bergizi bukan yang enak.
Upawasa dilaksanakan dengan tidak boleh makan dan minum dari pagi hari saat matahari terbit pada panglong 14 sampai besoknya pada Tilem sasih Kepitu saat matahari terbenam. Upawaca Siwa Ratri dilaksanakan selama 36 jam penuh. Upawasa ini dapat dilakukan sampai bepergian ke luar rumah misalnya sambil titra yatra. Ini bedanya dengan upawasa Nyepi yang hanya dilakukan di tempat, tidak boleh bepergian.
Pelaksanaan brata Siwa Ratri yang paling utama bersumber dalam sebuah kekawin berbahasa Jawa Kuna yang bernama Siwa Rarti Kalpa buah cipta dari Mpu Tanakung.
Menurut Worsley, salah seorang peneliti sastra Jawa Kuna, bagian-bagian tertentu dari kekawin Siwa Ratri Kalpa merupakan terjemahan dari kitab Padma Purana Sansekertia.
Kakawin Siwa Ratri Kalpa ini di Bali terkenal dengan kakawin Lubdhaka. Kakawin itu merupakan terjemahan dari bagian Utarakanda dari Padma Purana. Dalam Padma Purana nama si pemburu adalah Nisada sedangkan dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa si pemburu bernama Lubdhaka. Nama Nisada tidak dijumpai dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa.
Lubdhaka dalam Padma Purana bukanlah nama, tetapi artinya pemburu. Kalau boleh disimpulkan kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah terjemahan bebas dari Padma Purana kedalam sastra Jawa Kuna.
Kesimpulan ini menggambarkan bahwa para ilmuan, sastrawan dan rokhaniawan Hindu di masa lampau telah demikian mahir berbahasa Sansekerta. Tanpa pengetahuan dan penguasaan bahasa Sansekerta yang kuat tidak mungkin Mpu Tanakung mampu menyusun kekawin Siwa Ratri Kalpa.
Tentang Mpu Tanakung, Prof. DR. Purbacaraka pernah menduga bahwa Mpu Tanakung adalah seorang pegawai yang hidup pada zaman Ken Arok memerintah di Jawa Timur. Purba-caraka juga berpendapat bahwa Mpu Tanakung mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk mengambil hati raja Ken Arok orang yang pernah sebagai perampok dan merebut istri rajanya sendiri yaitu Tunggul Ametung.
Prof. Zoetmulder dan Prof. A. Teuw, keduanya peneliti sastra Jawa Kuna yang tersohor, mendapatkan kesimpulan yang amat berbeda dengan pendapat Prof. DR. Purbacaraka. Mpu Tanakung bukanlah seorang sastrawan yang hidup pada zaman Ken Arok. Mpu Tanakung adalah seorang Rakai yang hidup pada zaman Majapahit akhir, yaitu antara tahun 1466-1478 M. Itu berarti sekitar dua setengah abad setelah pemerintahan Raja Ken Arok. Ke-simpulan ini ditarik berdasarkan hasil penelitian “Waringin Pitu” yang berangka tahun 1447 M dan prasasti Pamintihan berangka tahun 1473 M.
Kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Singawikrama yang mempunyai nama kecil Suraprabhawa. Nama Suraprabhawa inilah yang tercantum dalam menggala kekawin Siwa Ratri. Tujuan Mpu sebagai seorang yang suci atau pendeta mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk menyebar luaskan ajaran brata Siwa Ratri sebagai ajaran Hindu yang amat utama. Tidaklah mungkin seorang Mpu yang suci menjilat sekali pun kepada rajanya sendiri.
Dalam tradisi Hindu orang suci seperti Mpu mendapat kedudukan yang sejajar dengan seorang raja dalam fungsi yang berbeda.
Oleh karena itu Empu Tanakung dapat diyakini seorang, tokoh agama yang menyebarkan ajaran suci agama Hindu termasuk ajaran Siwa Ratri.
Dapat dipastikan pula Empu Tanakung adalah seorang sastrawan spiritual yang ahli bahasa Sansekerta dan ahli bahasa Jawa Kuna. Kemahiran beliau dalam dua bahasa inilah yang menyebabkan beliau dapat dengan mudah mendalami tatwa-adyatmika yang terdapat dalam sastra-sastra Hindu seperti ajaran Siwa Ratri dalam Padma Purana.
Di Bali ajaran Siwa Ratri disebarkan dalam berbagai bentuk. Di Bali terdapat lontar yang menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri seperti Geguritan Lubdhaka dan Lontar Lubdhaka Caritra. Kedua lontar itu terdapat dalam koleksi lontar Fak. Sastra Unud Denpasar. Di Gedung Kertya terdapat lontar Aji Brata yang juga menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri.
Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.
Tata pelaksanaan brata Siwa Rarti telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984. Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.
Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping empat belas sasihkapitu.
Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan “kesadaran diri” (atutur ikang atma rijatinia). Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa, monabrata dan jagra.
Mona artinya berdiam diri tidak bicara. Mona artinya bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.
Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan me-lakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermaanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya “positif energi” untuk menggeser “parasit energi.”
Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir bathin akan semakin kita rasakan.
Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista madya utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi ber-sungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.
(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)
Menelisik Lebih Dalam Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Kata kontekstual berasal dari kata Context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan konteks”. Sehingga pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : yang berkenenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna dan kepentingan.[1]
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Menambah Traffic Blog dengan gampang.
Ada beberapa Cara Mudah Meningkatkan Traffic Blog secara gratis salah satunya jadilah member di Fweb Traffic, menurut saya sih bagus , paling tidak ini dilihat dari sistem yang diterapkannya karena setiap member baru terpaksa harus berkunjung ke blog para member lama untuk mengambil kode yang diberikan. Sehingga designernya berani mempromosikan cara ini dengan 1 Milion Visitors Free and Real seperti tampak pada banner dibawah ini :
Saya angkat 2 jempol untuk perancangnya.. Terbukti cara ini sekarang sedang banyak digandrungi.. dan tak ada salahnya untuk dicoba.. mumpung gratis, kalau dilihat peminatnya yang begitu banyak siapa tahu adminnya berubah pikiran jadi berbayar. .. Yoo .. kita sama-sama mencobanya :
Inilah Cara Mudah Meningkatkan Traffic Blog , langkahnya :
1. Silahkan click situsnya Get 1 Million Hits Visitors, FREE!
2. Scroll terus kebawah sampai pada format Sign Up Now For Free , seperti ini :
3. Klik link yang ada disana secara berurutan dari 1 s/d 6 untuk mendapatkan code ads nya , kemudian tunggu sebentar sampai kodenya muncul.
4. Jika kodenya sudah muncul, misalnya AD CODE #1: 61484 , nah kode yg 61484 di copy dan simpan di format berikutnya seperti form dibawah ini, awas harus sesuai jika kode untuk no.1 maka simpan juga di kotak code for ad 1, begitu seterusnya .

5. Sebelum diteruskan mumpung masih berada diblog pemberi kode tersebut. ada baiknya kita berkomentar disana sebagai info bahwa kita sudah ikutan sistem ini.
6. Setelah semua kode dimasukan , baru mengisi data yang diminta, seperti Nama, Email, Text untuk Iklan, Website Url dan password. Setelah itu baru klik SUBMIT ..
7. Buka email untuk verifikasi dan klik link yang diberikan.
8. Nanti akan ada kata2 Congratulations! kemudian klik here pada You can login to your new members area here.
9. Buka Email lagi untuk mengambil user id , password dan link url yang bisa digunakan untuk promosi dan login ke member area ( simpan user id dan passwordnya , karena nanti mungkin kita gunakan lagi)
10. Login ke member area lihat linknya sudah ada disana .. disini juga bisa merubah teks iklan , melihat down line serta mengambil kode marketing tools seperti code banner dan text link
11. Selanjutnya terserah anda… tinggal promosi saja , seperti pasang banner atau text link , karena semakin banyak yang daftar melalui link kita tentu semakin banyak pula visitornya kan gitu …
12. Akan lebih baik lagi jika anda juga membuat postingan tentang ini atau copas postingan ini tinggal ganti linknya saja…
sekian.
Pendidikan Inklusi, bukan eksklusive..
Pendidikan untuk semua (education for all) adalah semangat yang didengungkan dalam pembangunan pendidikan dewasa ini. Pendidikan untuk setiap warga negara Indonesia tanpa membedakan rasa keadilan dan tanpa diskriminasi baik bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun anak normal (non ABK). Semua memperoleh perlakuan sama, tanpa ekslusivisme sepihak.
Sungguh beruntungnya manusia jika dilahirkan normal mempunyai indera pendengar, pelihat ataupun perasa. Mereka mudah memperoleh pendidikan tanpa dikucilkan karena berbeda dengan siswa normal lainnya.
Namun bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), langkah untuk mendapat pendidikan itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Pasalnya belum banyak sekolah inklusif bagi mereka yang mutu dan sarana pendidikannya memadai.
Pada awalnya, ABK hanya mencakup impairment, handicap, dan disability sehingga pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus diselenggarakan di Sekolah Luar Biasa, dan untuk anak normal pada sekolah-sekolah regular. Namun dewasa ini katagori ABK telah berkembang dalam pengertian yang lebih luas, yaitu anak yang mempunyai keterbatasan (impairment) penglihatan (tunanetra), tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, autism (autistic children), hiperaktif (attention deficit disorder with hyperactive), anak dengan kesulitan belajar (learning disability atau spesific learning disability), dan anak dengan kelainan perkembangan ganda (multihandicapped and developmentally disabled children). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang dan zat adiktif lainnya juga dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus. Anak-anak yang memiliki bakat dan/atau kecerdasan luar biasa juga dikategorikan sebagai anak-anak berkebutuhan khusus.
Dalam proses pendidikan yang terjadi, para penggiat pendidikan merasakan bahwa masih terjadi perbedaan antara pendidikan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal. Oleh karenanya maka berkembanglah model inklusi sebagai solusi untuk memecahkan perbedaan-perbedaan yang dirasakan. Read more »
Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Hindu Bali
Bagi kita “Manusa Bali”, Pendidikan kharakter bukan hal yang baru.
(http://image.guim.co.uk/)http://3.bp.blogspot.com
Pendidikan kharakter dewasa ini merupakan aspek penting yang menjiwai Pendidikan Nasional kita. Tujuan pendidikan bukan hanya membentuk intelektual super saja namun juga membentuk akhlak dan moral yang baik. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Dalam prakteknya merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Apakah masyarakat Bali sudah memulai pendidikan kharakter itu? Tentu saja iya! Masyarakat yang ajeg Bali. Dari jaman leluhur kita sampai sekarangpun proses itu tetap berjalan. Tolak ukurnya adalah pengamalan Konsep Tri Hita Karana. Konsep yang bersumber dari ajaran Agama Hindu ini telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Bali. Semenjak anak-anak sampai menjelang ajalpun orang bali melaksanakan konsep tersebut.
(www.balitrihitakarana.com)
Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtera atau bahagia sedangkan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana artinya tiga hubungan yang sangat harmonis yang mengakibatkan umat manusia mencapai kebahagiaan/kesejahtraan. Penerapannya terdiri dari: hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya dan hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya. Di Bali konsep Tri Hita Karana ini tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu yang meliputi tiga unit yaitu : Parahyangan, yaitu berupa unit tempat suci ( Pura ) tertentu yang mencerminkan tentang konsep Ketuhanan, Pawongan, yaitu berupa unit tempat organisasi masyarakat sebagai perwujudan hubungan unsur antara sesama manusia, Palemahan, yaitu berupa unit wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur manusia dengan alam lingkungan.
http://3.bp.blogspot.com
Salah satu contoh sederhana dalam sebuah keluarga Hindu di Bali, orang tua kita selalu menghaturkan yadnya sesa setelah selesai masak. Hal ini mengandung makna hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bahwa sebelum kita mulai menikmati makanan, terlebih dahulu kita haturkan rasa syukur lewat yadnya sesa. Contoh lain, di Bali kita juga mengenal hari untuk memuliakan tanaman, hewan bahkan peralatan kerja yang dipakai setiap hari. Banjar sebagai wadah dalam mengikat budaya dan adat orang Bali juga membawa pengaruh besar bagi karakter orang Bali. Tanpa disadari, kita telah menanamkan konsep-konsep tersebut kepada anak-anak kita, yang dengan sifat keingintahuannya menyebabkan terjadinya “Transfer of Characther” melalui pengamatan dan pengalaman hidup (life skill). Dari beberapa sumber online, disebutkan kelebihan karakter dan prilaku orang Bali dibandingkan orang di daerah lain adalah sebagai berikut: berpedoman pada ajaran Tri Hita Karana, memegang teguh tradisi dan ritual keagamaan, menganggap penting aktivitas di pura dan banjar, percaya pada hukum karma, peduli kelestarian lingkungan, menjunjung tinggi kejujuran, membenci sikap serakah dalam mencari keuntungan, menjaga tradisi gotong royong dan harmoni kekeluargan, terbuka dan toleran terhadap orang yang berbeda budaya dan adaptif terhadap budaya modern dan profesionalisme.
Dengan demikian, tanpa bermaksud sombong dan tinggi hati, patutlah kita berbangga bahwa orang Bali telah dibekali pendidikan karakter oleh orang tuanya. Pendidikan orang Bali secara informal telah mencakup pendidikan karakter. Sepanjang Masyarakat Bali tetap mempertahankan tradisi, adat dan hubungan dengan leluhur yang berlandaskan ajaran agama, niscaya proses pendidikan karakter itu akan tetap berproses. Patutlah kita berbangga. …
Renungan “Poem”
CAKARKU CAKAR HARIMAU, KEPALAKU KEPALA IKAN TERI..
ULARKU ULAR SANCA…
KUDAKU KUDA TROYA…
Hakekat Anak Berkebutuhan Khusus
Anak Berkebutuhan Khusus
Apabila kita membicarakan Pendidikan Luar Biasa yang dalam bahasa Inggris disebut “Special Education”, maka tidak bisa lepas dengan Anak Berkebutuhan Khusus atau Exceptional Children. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus dikenal juga istilah anak cacat, anak berkelainan, anak tuna dan dalam pembelajarannya menjadi salah satu kelompok anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Dalam penggunaan istilah tersebut anak berkebutuhan khusus di atas memiliki konsekuensi berbeda. Istilah yang paling tepat tergantung dari mana kita memandang. Seperti dalam bahasa Inggris dikenal istilah Impairment, disability, handicap.
Impairment berhubungan dengan penyakit dan kelainan pada jaringan.
Disability berhubungan dengan kekurangan/kesalahan fungsi atau tidak adanya bagian tubuh tertentu.
Handicap berhubungan dengan kelainan dan ketidakmampuan yang dimiliki seseorang bila berinteraksi dengan lingkungan.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang memiliki kelainan pada fisik, mental, tingkah laku (behavioral) atau indranya memiliki kelainan yang sedemikian sehingga untuk mengembangkan secara maksimum kemampuannya (capacity) membutuhkan PLB atau layanan yang berhubungan dengan PLB.
Sesuai dengan hak asasi sebagai anak dimana ia harus tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan keluarga, maka PLB dalam bentuk Kelas khusus yang lokasinya berada di SLB harus dirancang sedemikian rupa sehingga program dan layanannya dekat dengan lingkungan ABK.
Pada akhir perkembangan sekarang ini, Anak luar Biasa sudah mulai dianggap sebagai manusia biasa sama seperti yang lain. Ia memilii hak yang sama. Hal ini menimbulkan perlakuan yang wajar seperti pada anak yang lain yaitu dididik dan disekolahkan.
Perbedaannya hanya terletak pada adanya kelaian yang disandangnya, Kelainan bisa terletak pada fisiknya, mentalnya, sosialnya atau perpaduan ketiganya. Mereka mengalami kelainan sedemikian rupa sehingga membutuhkan pelayanan Pendidikan Luar Biasa. Dengan sikap ini maka ia memiliki hak yang sama dengan anak biasa lainnya. Dengan sikap ini timbul deklarasi hak asasi manusia penyandang cacat yang meliputi:
- Hak untuk mendidik dirinya. (The Right to Educated Oneself)
- Hak untuk pekerjaan dan profesi.(The Right to Occupation or Profession)
- Hak untuk memelihara kesehatan dan fisik secara baik ( The Right to Maintain Health and Physical Well Being)
- Hak untuk hidup mandiri (the Right to Independent Living)
- Hak untuk kasih sayang (Right to Love)
Pengelompokan Anak Berkebutuhan Khusus
Untuk keperluan Pendidikan Luar Biasa, Anak Berkebutuhan Khusus dapat dibagi kedalam 2 (dua) kelompok yaitu:
1. Masalah (problem) dalam Sensorimotor
Anak yang mengalami kelainan dan memiliki efek terhadap kemampuan melihat, mendengar dan kemampuan bergeraknya. Problem ini kita sebut Sensorimotor Problem.
Kelainan sensorimotor biasanya secara umum lebih mudah diidentifikasi, ini tidak berarti selalu lebih mudah dalam menemukan kebutuhannya dalam pendidikan.
Kelainan sensorimotor tidak harus berakibat masalah pada kemampuan inteleknya. Sebagian besar anak yang mengalami masalah dalam sensorimotor dapat belajar dan bersekolah dengan baik seperti anak yang tidak mengalami kelainan.
Ada tiga (3) jenis kelainan yang termasuk problem dalam sensorimotor yaitu:
a. Hearing disorders (Kelainan pendengaran atau tunarungu)
b. Visual Impairment.(kelainan Penglihatan atau tunanetra)
c. Physical Disability (kelainan Fisik atau tunadaksa)
Setiap jenis kelainan tersebut akan melibatkan berbagai keahlian di samping guru khusus yang memiliki keterampilan dan keahlian khusus sesuai kebutuhan setiap jenis kelainan. Kerjasama sebagai tim dari setiap ahli sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran ABK.
2. Masalah (problem) dalam belajar dan tingkah laku.
Kelompok Anak Berkebutuhan Khusus yang mengalami problem dalam belajar adalah:
a. Intellectual Disability (keterbelakangan mental atau tunagrahita)
b. Learning disability (ketidakmampuan belajar atau Kesulitan belajar khusus)
c. Behavior disorders (anak nakal atau tunalaras)
d. Giftet dan talented (anak berbakat)
e. Multy handicap (cacat lebih dari satu atau tunaganda)
——————————————————————————-
Wabah penyakit Legionella, apa ada di Bali?
Penyakit Legionella (Pontiac Fever).
Sumber : http://www.republika.co.id
Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.
Dalam bahasa Inggris penyakit ini disebut Legionaire Disease dan masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Bakteri Legionella biasanya berkembang di air, khususnya pada lingkungan yang hangat seperti pada bak mandi dengan air panas, tangki berisi air panas, sistem pipa dan sistem pendingin udara.
Dalam situs kalbe.co.id, legionellosis adalah suatu penyakit infeksi bakteri akut yang bersifat new emerging diseases. Secara keseluruhan baru dikenal 20 spesies dan penyebab Legionellosis adalah Legionella pneumophila.
Legionellosis terjadi di Philadelphia Amerika Serikat pada tahun 1976 dengan jumlah kasus 182 dan kematian 29 orang. Di Indonesia kasus ini ada di sejumlah tempat antara lain di Bali (1996), di Karawaci Tangerang (1999), dan di sejumlah kota lainnya. Dari hasil survai tahun 2001 atas petugas air menara sistem pendingin di hotel-hotel di Jakarta dan Denpasar ditemukan hampir 90 persen pernah terpajan bakteri Legionella.
Bakteri Legionella biasa hidup di air laut, air tawar, sungai, lumpur, danau, mata air panas, genangan air bersih, air menara sistem pendingin di gedung bertingkat, hotel, spa, pemandian air panas, air tampungan sistem air panas di rumah-rumah, air mancur buatan yang tidak terawat baik, endapan, lendir, ganggang, jamur, karat, kerak, debu, kotoran, atau benda asing lainnya. Bakteri ini juga terdapat di peralatan rumah sakit seperti alat bantu pernafasan. Read more »
Planet Lain Seperti Bumi Ditemukan!!
Akankah Manusia Pindah Ke Planet mirip Bumi? Planet Zarmina…
Sumber : ANTARA News
Para astronom menemukan Gliese 581g, sebuah planet seukuran Bumi yang bergerak mengorbiti sebuah bintang dan berpotensi didiami manusia.
Planet itu merupakan planet yang paling mirip Bumi yang pernah ditemukan dalam sistem tata surya lain dan yang paling berkemungkinan untuk didiami.
“Penemuan kami memberikan bukti kuat tentang planet yang bisa didiami,” tulis Professor Steven Vogt, seorang astronom dari University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat dalam Astrophysical Journal seperti yang dikutip The Telegraph, Rabu (29/9).
“Bahwasannya kami bisa mendeteksi planet itu dengan cepat dan letaknya sangat dekat, membuktikan bahwa planet seperti itu pasti sangat banyak,”Vogt melanjutkan.
Lebih dari 400 eksoplanet telah ditemukan oleh para astronom tetapi sebagian besar dari mereka adalah planet gas raksasa seperti Jupiter, dan tidak cocok untuk didiami. Read more »





















ID174094319

































































