Category Archives: Mahabharata

“Raja Dretarastra Drop Out dari SLB Hastinapura”


(Sekedar latihanku corat-coret fiksi)

Suatu sore ditahun 2800 SM, tiga orang bocah bermain-main di halaman sebuah rumah mewah diawasi oleh dua orang pembantunya. Mereka bersenda gurau terkadang tertawa terbahak-bahak karena asyik dengan permainannya. Terkadang mereka berlari saling kejar mengejar di halaman rumah yang sangat luas itu. Maklumlah, istana kerajaan kuru adalah tempat paling mewah di hastina kala itu. Rumah seluas 800 meter persegi ditempati oleh dua orang ibu permaisuri yang bernama ibu Ambika dan Ambalika. Dari kedua permaisuri inilah cikal bakal keturunan bangsa bharata yang gagah perkasa.

Bocah-bocah itu tiada lain adalah Dretarastra, pandu dan widura. Dretarastra adalah putra ibu Ambika, pandu adalah putra ibu ambalika dan widura adalah saudara tiri dari keduanya dari ibu yang berbeda. Namun ketiga anak itu mempunyai ayah yang sama. Continue reading

D R O N A


Drona adalah seorang putra brahmana yang bernama Bharadwaja. Setelah menyelesaikan pelajarannya tentang Weda-Weda dan Wedanga-wedanga Drona lalu memusatkan hati dan pikirannya guna mempelajari seni dan keakhlian mempergunakan senjata dan peralatan perang dan kemudian menjadi mahir sekali. Drupada, putra raja Panchala yang menjadi kawan brahmana Bharadwaja, adalah teman belajar Drona di dalam asrama dan di antara keduanya tumbuhlah persahabatan yang sangat akrab dan saling kasih-mengasihi. Sewaktu mudanya Drupada sering dengan enthuasiasme menceritakan kepada Drona bahwa kalau ia kelak naik takhta kerajaan, setengah kerajaannya akan diberikannya kepada Drona. Continue reading

B h i m a s e n a


Maka Pandawa, kelima putra Pandu dan Kaurawa, keseratus putra Dhritarashtra, tumbuhlah makin besar dan hidup serta bermain bersama-sama dengan penuh kegembiraan di Hastinapura. Bhima, sebagai Pandawa yang kedua, adalah anak paling kuat phisiknya diantara semuanya. Ia bisa menundukkan Duryodhana dan Kaurawa lainnya dengan jalan menyeret rambut mereka dan menggebuki mereka, ia adalah juga jago renang dan sering membawa seorang Kaurawa atau lebih ke dalam kolam. Lalu dipeluknya mereka, di bawa menyelam dalam-dalam sampai kedasar kolam sehingga mereka kadang-kadang tidak berdaya lagi dan hampir tenggelam. Apabila mereka sedang bermain-main di atas pohon kayu, maka datanglah Bhima lalu menendangi pohon itu dan menggoyang-goyangnya sehingga mereka berjatuhan ibarat buah-buahan gugur saja layaknya. Continue reading

W i d u r a


Resi Mandawya, yang telah memperoleh kekuatan jiwa dan pengetahuan tentang kitab-kitab suci, melewatkan hari-harinya dengan jalan bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan seperti diisyaratkan oleh agama. Ia tinggal dalam sebuah pertapaan dalam hutan di tepi kota. Pada suatu hari ketika ia sedang khusuknya dalam pertapaan menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon kayu rindang di luar gubuknya, segerombolan penyamun telah melarikan diri ke dalam hutan dikejar-kejar oleh pasukan bala-tentara kerajaan. Gerombolan ini memasuki pertapaan itu karena menyangka bahwa tempat itu pasti akan dapat melindungi diri mereka. Mereka menyembunyikan diri mereka dan hasil perampokan mereka dalam suatu pojok. Balatentara kerajaan mengikuti jejak mereka ke pertapaan tersebut. Continue reading

BANGSA YADAWA MUSNAH


Ketika perang di medan Kurukshetra berakhir, dan Yudhishthira dinobatkan sebagai raja, di mana ia juga melaksanakan upacara Ashwamedha yang agung, Krishna minta diri kepada Pandawa untuk kembali pulang ke negrinya, Dwaraka. Dalam perjalanan pulang tersebut Krishna bersua dengan kawan lamanya seorang brahmana bernama Utanga di tengah jalan. Krishna berhenti, turun dari keretanya, lalu memberi salam kepada brahmana tersebut. Maka terjadilah percakapan yang agak panjang di antara kedua kawan-lama ini. Masing-masing menanyakan tentang kesehatan, keadaan sanak keluarga serta kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai dalam perjalanan hidup ini.

Utanga juga menanyakan tentang berita keadaan Pandawa, sebab ia tahu Krishna adalah keluarga dekat mereka. Brahmana yang malang itu sama sekali tidak mendengar berita tentang peperangan yang besar yang telah berlangsung di medan Kurukshetra. Krishna merasa heran akan hal itu. Untuk beberapa saat tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Continue reading

MAHABHARATA : COBAAN TERAKHIR BAGI YUDHISTHIRA


Setelah Dhritarashtra, Gandhari dan Kunti terbakar dimakan api dalam hutan, pertapaan mereka, dan setelah Krishna — sekutu mereka terpercaya dari Dwaraka — beserta seluruh bangsanya musnah, maka Pandawa menobatkan Parikshit, putra Abhimanyu dengan istrinya Uttari Dewi, di atas takhta kerajaan sebagai Rajadiraja untuk memerintah di Hastinapura, sedangkan mereka bersama-sama Draupadi pergi ke Himalaya untuk mencapai kediaman Batara Indra di puncak Gunung Mahameru. Seekor anjing menyertai mereka dalam pengembaraan menuju ke gunung suci itu. Dengan mengunjungi berbagai tempat suci dan melintasi hutan belantara yang penuh dengan binatang buas, setan-jin dan berbagai makhluk ajaib, ketujuh mereka itu, Yudhishthira, Bhimasena, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Draupadi dan anjing mereka, siang dan malam berjalan tidak henti-hentinya. Continue reading