“Si Genius Pemimpin Para Idiot”


genius-pemimpin-para-idiotKita Bisa Karena Biasa” demikian bunyi pepatah yang sering menginspirasi manusia untuk pantang  menyerah dan senantiasa belajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun saat ini pepatah tersebut nampak terdegradasi menjadi ”Kita Bisa Karena Dipaksa”. Situasi ini lazim terjadi ketika rakyat sebuah negeri yang mayoritas intelektualnya standar-standar saja dipimpin oleh seorang pemimpin super melalui program-program unggulan bombastis pro rakyat jangka pendek. Pimpinan genius dengan ambisi spektakuler akan merevolusi kehidupan rakyatnya dari keterbelakangan. Alhasil, pembangunan pesat hanya terjadi dalam waktu sesaat, berikutnya adalah ”back to zero”, ”discontinue” karena rakyat tidak mampu melanjutkan tujuan utama dari tumpang sari program pimimpinnya yang genius. Pembangunan ngadat akibat rakyat yang miskin inovasi dan bukan karena kurang memahami.

Dalam beberapa kurun waktu, kita mencatat bahwa beberapa daerah pernah dipimpin oleh pemimpin genius yang entrepreneurship, apakah itu lurah atau camat, bupati, walikota bahkan gubernur. Mereka membawa program-program mutakhir hasil cloning dari daerah maju yang notabene rakyatnya genius pula. Keseluruhan program tentunya berbasis ekonomi atau dengan kata lain harus punya duit dulu baru bisa maju.

Prinsipnya, agar pembangunan dapat berjalan, rakyat mesti berduit dulu, barulah kemudian rakyat akan membangun dirinya sendiri secara mandiri. Pemimpin dalam hal ini adalah mengarahkan dan membina program-program yang telah berjalan.

Pimpinan yang genius mesti dibantu oleh pembantu-pembantu yang super pula. Karena ritme pimpinan harus mampu diimbangi oleh bawahannya dalam melaksanakan pembangunan hingga ke level bawah. Namun faktanya di lapangan, pimpinan melangkah 10 kali, bawahan baru melangkah 5 kali alias ketinggalan. Mungkin saja karena tidak semua bawahan itu sempurna atau semua bawahan pada genius sehingga semua suka main perintah dan tidak ada yang mau bekerja.

Langkah awal yang hendak dilakukan dalam pembangunan model ini adalah menggelontorkan sejumlah uang kepada rakyat atau kantong-kantong miskin pedesaan. Kemudian barulah pembangunan mulai dilaksanakan dari tingkat desa dan melebar ke area perkotaan. Membangun SDM terlebih dahulu dilanjutkan dengan usaha mandiri meningkatkan taraf hidup sesudahnya. Namun pernahkah terpikirkan bahwa apa yang dipikirkan oleh si pemberi modal sama dengan si penerima modal? Terkadang karena uang, mereka hanya tersenyum dan meng-iyakan apa yang dikatakan pimpinannya tanpa memiliki arah dan inovasi kedepannya. Yang penting dapat uang dan lainnya urusan belakangan. Apakah seorang pemimpin genius mengetahui akan hal tersebut?

Tujuan mulia pemimpin super tidak mampu diterjemahkan oleh lingkungan yang idiot. Pembangunan lanjutan tidak akan bisa berjalan mulus karena situasi dan kondisi rakyat yang benar-benar tidak bisa mengikuti ide-ide genius pemimpinnya. Ketika pemimpin tersebut harus digantikan oleh pimpinan baru yang kurang genius saat masa jabatannya telah habis, maka pembangunan tidak akan sampai pada tujuan akhirnya alias mandeg (discontinue) dan digantikan oleh sistem yang baru. Situasi akan berulang lagi dari awal (back to zero).

Ketika kita berpikir efisiensi, sebaiknya masa kepemimpinan seorang genius leader harus diperpanjang terlepas dari segala aturan yang masih bisa direvisi agar tujuan utama dari pembangunan tercapai. Demokrasi bukan untuk memutus rencana pembangunan di tengah jalan, namun hendaknya melanjutkan pondasi-pondasi fundamental yang telah berdiri. ***

Advertisements

3 thoughts on ““Si Genius Pemimpin Para Idiot”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s