“Re-strukturisasi Hutang Karma Di Pulau Sorga”


KARMAHutang Karma atau Karma Phala adalah hasil perbuatan baik atau buruk yang buahnya wajib dinikmati oleh subyek Karma yaitu manusia. Dosa atau Karma buruk tentu busuk pula buahnya. Kemelaratan, kemiskinan, kesengsaraan, penderitaan yang menimpa saudara-saudara kita bahkan kita sekalipun adalah mungkin fakta Karma Phala yang sedang berproses. Namun intervensi kongkret penguasa Pulau Sorga menggelontorkan program-program mulia pengentasan kemiskinan, mau tidak mau harus diakui berdampak pada pengurangan Hukum Karma seseorang.

Masyarakat Pulau Sorga percaya dengan ikatan Hukum Karma yang bersifat kekal. Setiap orang tanpa kecuali, tidak terelakkan dari pahala perbuatannya. Tentu yang membedakan adalah waktu, cepat atau lambat.

Hukum Karma Phala adalah hukum yang bersifat universal, artinya bahwa Kharma Phala akan diterima oleh siapapun dan tidak memandang hubungan keluarga maupun status sosial dalam masyarakat.

Suatu saat ketika Karma buruk menghampiri manusia, yang akibat pertolongan orang lain maka yang bersangkutan terlepas sementara dari jadwal hukuman duniawi.

Namun manusia akan menjalani kewajiban Hukum Karma sebagai hutang pada reinkarnasi berikutnya. Generasi anak, cucu bahkan cicit tidak steril dari pengaruh atmosfer hutang Karma leluhurnya.

Pemerintah Pulau Sorga dinahkodai oleh paket Gubernur dan wakil terpilih dalam pemilihan langsung oleh rakyat. Program-program unggulan tepat sasaran tentu saja menjadi terobosan yang dijalankan sebagai wujud tanggung jawab pemerintah.

Alhasil kemiskinan merosot, tidak ada rakyat mati karena kelaparan dan penyakitan, uang rakyat untuk rakyat, kebodohan menipis, UMKM meroket dan semua rakyat miskin miliki rumah layak huni. Lain kata tidak ada lagi rakyat yang menderita alias Hukum Karma menjadi tidak efektif lagi pada kehidupan saat ini. Dan restrukturisasi  hutang Karma-pun terjadi.

Jika kita berpegang pada keyakinan bahwa tiada makhluk yang terbebas dari Hukum Karma, tidak ada posisi tawar bagi manusia dalam pengadilan Karma, mengandung pengertian bahwa kemiskinan, penderitaan, kemelaratan niscaya berulang kembali pada generasi-generasi berikutnya di pulau Sorga.

Dan hal tersebut akan menjadi konsekuensi dan tanggung pikul Pemerintah Pulau Sorga yang akan datang.

Suatu ketika timbul pertanyaan besar dalam benak kita, “bagaiamana caranya membangun masyarakat Pulau Sorga yang adil, makmur dan sejahtera  jikalau makmur hanya saat ini kemudian miskin lagi pada generasi berikutnya?”

Jika dan hanya jika kita sepakat maka pembangunan akan berhasil apabila dilakukan seimbang material dan spiritual, jasmani dan rohani, atau sekala lan niskala. Pengentasan kemiskinan dan kebodohan secara material hendaknya dibarengi peningkatan ahlak, budi dan perbuatan dalam ranah rohani spiritual sehingga mengkikis dosa dalam ikatan-ikatan Karma yang membelenggu manusia.

Hutang Karma mungkin tidak dapat dihindari, namun harus dibayar dengan perbuatan-perbuatan luar biasa oleh manusia saat ini dan niscaya generasi mendatang tidak terbebani oleh neraka dunia.

***

Advertisements

4 thoughts on ““Re-strukturisasi Hutang Karma Di Pulau Sorga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s