” Galungan, Putu Regeg Pulang Ke Bali “


(Kedekatan orang Bali dengan Leluhurnya)

Sepuluh tahun telah berlalu semenjak peristiwa naas menimpa Putu Regeg (5), bocah lelaki pasangan MA (48) dan KY (41) yang jiwanya tak tertolong ketika tercebur di aliran Tukad (sungai) Badung saat bermain bersama teman-teman sebayanya. Kabut duka senantiasa bergelayut di bola mata kedua orang tuanya hingga saat ini dan melahirkan trauma berkepanjangan. Maklumlah, sangat berarti kehilangan anak laki-laki (anak perempuan juga sama) dalam sistem ”Kepurusan” yang lazim di Bali, apalagi ”spirituality Cost” dalam membesarkan seorang anak di Bali terbilang cukup besar.

Seperti umumnya di Bali, jenazah Putu Regeg di upacarai menurut kepercayaan Hindu sebatas yang diijinkan bagi orang yang meninggal secara ”Salah Pati” tanpa prosesi Ngaben karena harus menunggu beberapa tahun kedepan. Atman (roh) belum boleh menetap atau ditempatkan di merajan pribadi keluarga.

Saat ini, Putu Regeg kecil dipercaya masih harus ”ngayah” (mengabdi) dari satu Pura / tempat suci ke tempat suci lainnya menurut ”skill” yang dimilikinya. Tentu saja hal ini semakin menambah beban perasaan kedua orang tuanya ketika membayangkan anak lelakinya tanpa dosa jauh dari keluarga walaupun dalam dimensi yang berbeda. Secara ilmiah memang sulit untuk dibuktikan kehadiran Putu Regeg dalam kehidupan keluarganya sehari-hari, namun rasa, naluri dan ikatan batin dengan kedua orang tuanya mampu merasakan kehadiran sang buah hati walaupun dalam bentuk ”atman” (roh).

Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Rabu (Buda Kliwon Dunggulan) dan seminggu setelahnya yaitu hari Sabtu (Saniscara Kliwon Kuningan) adalah Hari Raya Kuningan. Momen Hari Raya Galungan dan Kuningan pada hakekatnya adalah sebagai manifestasi kemenangan Dharma melawan Adharma, kebaikan melawan kebatilan dan seterusnya. Prosesi Hari Raya dimulai seminggu sebelum Galungan yang disebut sebagai Hari Sugihan dan seterusnya hingga berlanjut sampai Kuningan.

Hari Sugihan yang jatuh pada hari kamis (Wrespati Wage Sungsang) sebagai awal memasuki Galungan, bagi masyarakat Bali dipercaya sebagai waktu mudik bagi roh-roh leluhur atau keluarga kembali ke kampung halaman. Saat tersebut, mereka (roh) diyakini datang dan tinggal bersama dengan keluarganya masing-masing untuk merayakan Galungan dan Kuningan. Setiap hari keluarga menghaturkan persembahan (sodaan) bagi para leluhur, konsep perlakuan yang sama seperti ketika mereka masih hidup, dimana mereka hadir dalam setiap kegiatan yang kita kerjakan. Ketika Hari Raya Kuningan telah tiba, roh-roh para leluhur akan kembali lagi ke tempat dimana mereka mengabdi (ngayah) sebelumnya. Begitu seterusnya hingga tiba masa Hari Raya berikutnya.

Putu Regeg pun memanfaatkan momen ini untuk mengunjungi kampung halamannya. Berbagai persiapan upacara dilakukan oleh orang tuanya untuk menyambut kedatangan Putu Regeg. Mereka percaya bahwa sang buah hati kini telah kembali dan hadir di dekat mereka. Walaupun tiada kuasa untuk memeluk sang anak namun kerinduan orang tuanya sedikit tidaknya mampu terobati karena rasa, hati dan perasaan mereka dipersatukan dalam suasana Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Empat Belas Hari berlalu adalah waktu yang sangat singkat bagi Putu Regeg dan kedua orang tuanya untuk tinggal bersama. Putu Regeg harus kembali lagi ke tempat semula ia bekerja “ngaturang ayah”untuk menunaikan tugas-tugasnya. Dengan berat hati, ia pergi meninggalkan kedua orang tua yang dikasihinya hingga tiba saat Hari Raya Galungan berikutnya. Lima tahun yang akan datang barulah Putu Regeg diperbolehkan tinggal selamanya dengan orang tuanya seiring dengan Upacara Ngaben yang dilakukan keluarganya. (pnd)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s