Dra. Agustiyawati, M.Phil.SNE : “Butuh Kejujuran Buat Vermak SLB”


“Pertama kali saya masuk, ternyata sekolah defisit”! Ucap Ibu Kepala SLB-A Pembina Jakarta yang akrab disapa Ibu Tia kepada kepada tim sekolah imbas asal Bali yang sedang melaksanakan obeservasi di sekolahnya pada awal Agustus 2012. Sosok Ibu Tia memang dikenal keibuan layaknya perempuan Indonesia pada umumnya, namun demikian tegas dalam mengelola Sekolah Luar Biasa yang digawanginya.

SLB-A Pembina Jakarta berada di jalan Pertanian raya, kelurahan lebakbulus kecamatan Cilandak – Jakarta Selatan. Lembaga pendidikan yang aset fisiknya sebagian besar milik Direktorat Pusat, hanya saja SDM-nya adalah PNS Pemerintah DKI Jakarta.

“Membangun SLB tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi tidak semuanya milik daerah, kerap terjadi benturan dalam menetapkan kebijakan” ucap ibu Tia.

Pada areal yang cukup luas ini terbelah menjadi dua bagian dan berdiri dua sekolah luar biasa yaitu SLB-A Pembina dan SLB-C Jakarta. Di Bagian belakang berdiri wisma-wisma milik direktorat pemerintah pusat. Asrama dan perumahan guru SLB yang pernah ada telah dipugar dan dibangun sarana gedung baru untuk pendidikan anak autis.

SLB-A Pembina berdiri sejak 1981. Di bawah komando Ibu Tia, sekolah banyak berbenah terutama pada delapan standar pendidikan nasional yaitu kompetensi lulusan, isi, pendidik dan tenaga kependidikan, proses, sarana prasarana, pembiayaan, pengelolaan dan nilai pendidikan. Alhasil, SLB-A Pembina Jakarta mengantongi ISO 9000 sebagai sekolah dengan standar manajemen mutu dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Ibu Tia juga mengelola Pendidikan Anak Usia Dini yang merupakan satu kesatuan dengan SLB-A Pembina. Anak-anak pra sekolah dipersiapkan sejah dini untuk memasuki jenjang sekolah luar biasa. Bukan hanya anak-anak dengan keterbatasan netra saja yang dipersiapkan, bahkan dengan kecacatan ganda yang notabene perlu tenaga dengan keahlian khusus pula.

SLB-A Pembina memiliki ruangan kelas khusus bagi Tuna Ganda yang disebut ruangan inklusi. Ruangan dengan desain khusus lengkap dengan sarana pendukung ADL (activities daily living) yang mempermudah aksesibilitas siswa. Ruang-ruang ketrampilanpun tertata rapi, salah satunya adalah ruang ketrampilan musik yang melahirkan siswa yang terampil bermain musik dan olah vokal.

“Saya tetapkan hari Senin sebagai Monday with English. Tujuannya agar warga sekolah terbiasa dengan bahasa Inggris. Rekan-rekan guru juga dibiasakan untuk memberikan dakwah agama bagi siswa secara bergantian. Awalnya sulit juga sih, tapi lama-lama mereka happy kok! ” jelas ibu Tia kepada kami.

Sebagai sebuah pusat sumber, SLB-A Pembina mempunyai pusat percetakan buku Braille yang professional. Kegiatan percetakan biasa dilakukan setiap hari Sabtu, karena kegiatan belajar mengajar hanya dilaksanakan mulai hari Senin sampai Jumat sehingga tidak mengganggu pendidikan siswa. Buku-buku Braille yang diproduksi cukup lengkap dan telah dimanfaatkan oleh hampir seluruh Lembaga Tuna Netra di Indonesia.

“Saya budayakan transparansi dalam mengelola sekolah. Masih banyak cita-cita yang ingin saya wujudkan. Itupun jika saya masih dipercaya menjadi kepala sekolah. Disini kepala sekolah tidak seumur hidup lho”  tutur ibu Tia sambil menutup pembicaraan, karena kami harus melanjutkan observasi ke bagian lainnya.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s