Faktor Internal Melemahkan Adat Bali Kini…


Kokohnya pilar Pulau Bali dalam bentuk desa adat/pakraman kian hari semakin terkikis.  Ikatan masyarakat Bali dalam bentuk semangat “menyame braya”, sagilik-saguluk salulung sabayantaka sarpanaya (susah senang, senasib sepenanggungan), ngayah, dan lain sebagainya secara masif tergerus oleh kompleksitas masalah-masalah internal dibanding eksternal. Semakin banyak Semeton Bali intelektual saat ini bukannya mengurangi persoalan yang timbul, terkadang menjadi sumber potensi konflik akibat sikap “nyapa kadiaku” dan saling membenarkan teori-teori dalam kehidupan adat. Menimbulkan riak-riak kecil yang berujung pada konflik mengatasnamakan adat.

Sejatinya Desa Adat merupakan satu kesatuan masyarakat hubungan adat di daerah Bali yang mempunyai kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga, yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Landasan dasar dari Desa Adat harus berlandaskan pada konsepsi Tri Hita Karana.

Sebuah kasus yang masih jelas dalam ingatan kita adalah ketika Desa Pakraman Pangkungkarung mempertontonkan “sweeping”  kegiatan pernikahan yang dilakukan dari krama Desa Pakraman Bedha. Jelas bahwa sumber awal konflik adalah keinginan Pangkungkarung eksistensi sebagai Desa Pakraman dihadang oleh Desa Pakraman Bedha yang merupakan induknya. Semeton intelektual yang paham mengenai Desa Pakraman memimpin dan menggerakkan krama yang belum tentu seluruhnya mengerti hakikat Desa Pakraman.

Salah satu faktor internal dalam Desa Adat sendiri adalah “mulai memudarnya rasa menyama braya dikalangan masyarakat Bali“. Lemahnya solidaritas sesama orang Bali. Hal ini dikarenakan berbagai faktor, diantaranya persaingan ekonomi, kesenjangan sosial, rasa iri hati dan orientasi masa depan yang mulai berbeda-beda.

Faktor lainnya adalah “aplikasi ketentuan adat yang terlalu kaku dan keluar dari unsur keharmonisan” sering berlaku bagi sesama semeton Bali sendiri. Sedangkan warga pendatang dari luar Bali tidak tersentuh oleh kakunya implemetasi ketentuan adat, mereka aman-aman saja mendominasi sektor ekonomi di Bali. Penjual Bakso tetap saja berjualan di tempat krama yang sedang ngayah membersihkan kuburan tanpa mesti ikut serta melakukan kegiatan ngayah itu.

Memang keberadaan aturan desa pekraman yang bernama awig-awig masih cukup relevan dalam mengatur tata-titi kehidupan sosial dalam lingkungan desa pekraman. Namun, harus diakui pula dibeberapa wilayah desa pekraman di Bali, masih ada desa yang memiliki awig-awig yang belum lentur. Contoh aturan meayah-ayahan yang kurang fleksibel terutama bagi krama adat yang merantau, belum lagi masalah ngaben yang sering memicu konflik dibeberapa tempat dengan berbagai faktor penyebabnya. Jikalau ke-kakuan dan kelembaman ini terus terpelihara, niscaya Krama Bali tidak akan bisa maju. Terutama Semeton Bali yang merantau tentu saja akan sangat terbebani.

Selain itu, Fanatisme Soroh menjadi pemicu konflik adat di Bali. Saat ini terdapat banyak kelompok wangsa (soroh/clan), disamping kelompok pendatang. Kelompok wangsa ini pada dasarnya baik yaitu mempersatukan keluarga sehingga bisa lebih baik komunikasinya secara horisontal juga secara vertikal (Hyang Widhi dan Bhatara Kawitan). Celakanya adalah ketika yang satu menganggap lebih tinggi dari yang lain. Pola Clan yang salah bisa menyebabkan masyarakat Bali kurang ada ikatan emosional yang sama sehingga terkesan kurang bersatu. Bahkan dalam satu Clan-pun potensi konflik bisa terjadi.

Faktor berikutnya adalah perbedaan pandang diantara warga desa acapkali berujung pada konflik horisontal baik secara individu maupun kelompok. Dalam arti bahwa, demokrasi (perbedaan pendapat), masih sering dimaknai sebagai bentuk permusuhan oleh sementara oknum. Dalam forum sangkep (pertemuan rapat adat) sering dipertontonkan persetruan dan ajang provokasi.

Terakhir adalah budaya “suryak siyu” masih mewarnai kehidupan desa adat terutama dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. “Suryak Siu” berarti koor massal terhadap suatu hal yang bisa berarti persetujuan atau penolakan terhadap sesuatu yang pada mulanya dimulai oleh seseorang atau beberapa orang kemudian menjadi persetujuan massal yang biasanya didasarkan atas gerak emosional tanpa pertimbangan yang matang. Hal ini menimbulkan suasana yang tidak kondusif dalam Desa Pekraman.

Faktor-faktor tersebut diatas adalah murni dari krama adat itu sendiri. Suka atau tidak suka, faktanya bahwa Semeton Bali berkelahi dengan saudaranya sendiri. Penduduk pendatang memanfaatkan situasi dengan mencuri dan mengeruk setiap celah ekonomi untuk kehidupan mereka.

Bagaimana halnya dengan Krama Bali yang merantau diluar Bali??

Hubungan sosial sesama orang Bali diluar Bali relatif lebih baik dan lebih moderat. Keakraban ini mungkin karena merasa senasib sesama perantau, ini adalah hal yang umum secara psychologis. Umumnya mereka menikmati hidup diluar Bali dan sesekali ke Bali menengok keluarga, tidak ubahnya seperti wisata.

Ada sebuah keluarga yang tidak bersedia pindah ke Bali ketika ditawari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar dengan keadaannya sekarang, alasannya dia tidak kuat dengan kehidupan adat di Bali. Diluar Bali dia cukup menyiapkan Canang dan buah lalu ke Pura bersama keluarga sudah cukup mantap bersembahyang.

Sehari-hari dengan Gayatri Mantram kadang dilanjutkan dengan ”Japa” memegang Gnitri, terasa sangat baik komunikasi dengan Sang Pencipta, yang mana tidak bisa dia dapatkan jika menjadi masyarakat Bali.

Pada hari-hari tertentu belajar mekidung baik Bali atau kidung setempat dan anak-anak mereka belajar menari dan agama Hindu di Pura, tercipta suasana yang sederhana, akrab, tanpa menghilangkan kadar ke-Hinduan.

Terhadap permasalahan Bali ini, secara umum orang Bali di rantau bukannya tidak peduli dengan keadaan di Bali, tetapi mereka tidak punya kemampuan untuk merubah cara-cara di Bali yang kurang pas dijaman sekarang ini karena sudah mendarah-daging dimasyarakat, jadi mereka berpendapat biarlah Bali seperti itu, diluar Bali kita beda.

Apalagi diluar Bali akan berinteraksi dengan etnis lainnya seperti : Jawa, Batak, Bugis, Menado, Padang, Kalimantan, dll. yang pasti juga punya adat dan tata-cara sendiri dalam berkomunikasi kepada sesama dan Sang Pencipta, sehingga perlu format yang lain dalam ber-sosial masyarakat tidak seperti di Bali murni. Masalah diluar Bali lebih kepada ”kearifan untuk ber-interkasi dengan etnis lainnya dalam satu payung agama Hindu, tanpa merendahkan kepercayaan umat beragama lain”. ***

Advertisements

2 thoughts on “Faktor Internal Melemahkan Adat Bali Kini…

  1. nakbalibelog

    Om Swastiastu’; salam kenal saking nakbalibelog, ngiring sareng nge-share tentang Bali kini, masa lalu dan untuk masa depan … nakbalibelog sempat diskusi dengan pegawai bank yang bertugas mengucurkan modal, memang orang Bali sangat doyan jual beli Tanah, baik itu tanah warisan sendiri – sedih juga mendengar cerita pegawai bank itu, mereka tahu sekali kelemahan orang Bali adalah tanah untuk investasi katanya akan menguntungkan – ya menguntungkan sementara karena lama-lama tanah bali abis dimiliki orang lain … inggih niki hanya share ttitiang, semoga kedepan Bali tetap milik Anak Agung, Gusti, Pande, Ida Bagus, i Luh, i wayan, i made, i komang, i ketut

    suksma
    NB : linknya sampun ring sidebar kanan, mohon linkbacknya

    Reply
    1. VANtheyologist Post author

      inggih, atur suksman titiang ring semeton NBB – semeton bali. Ampure yen prade wenten kaiwangan ring blog titiang. Santukan pateh puniki tiang taler belog. Ngiring sareng-sareng dikoreksi, druwenang sareng.. (linknya sampun di side bar titiang) Astungkara

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s