PNS Krama Bali sebagai warga adat juga “Ngayah”…


Perihal “Ngayah” yang selama ini menjadi topik hangat dalam sebuah media cetak di Bali cenderung memposisikan bahwa PNS / Krama Bali yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS adalah jauh dari kegiatan – kegiatan sosial masyarakat Bali bahkan seakan-akan bukan merupakan warga adat di Bali.  Gaji yang diterima PNS dijadikan pembanding dalam memandang persoalan-persoalan yang dihadapi prejuru-prejuru adat dalam melaksanakan kegiatan “Ngayah”.

Sebuah tulisan dengan judul “kontroversi ngayah dan mebayah” dalam sebuah harian cetak di Bali secara explisit menjelaskan bahwa “Ngayah” adalah swadarma prajuru adat dan krama yang bukan PNS saja. Sedangkan “Mebayah” selalu dalam konteks profesi sebagai PNS.  Seakan – akan krama Bali profesi PNS bukan merupakan warga adat yang tidak ikut-ikutan dalam kegiatan “meayah-ayahan”. Adalah suatu kekeliruan yang sangat fatal apabila hal-hal tersebut tidak memperoleh pengakuan dengan baik yang ujung-ujungnya tentu menimbulkan keprihatinan bagi kita orang Bali dalam kerangka persatuan dan kesatuan ajeg Bali.

Semua krama Bali sejatinya adalah warga adat di masing-masing daerahnya, tanpa kecuali PNS ataupun swasta. Hanya saja karena profesi dan diikat oleh aturan menyebabkan porsi “Ngayah”  sebagai warga adat lebih sedikit dibandingkan prajuru adat yang bukan pekerja dari suatu instansi pemerintahan ataupun swasta. Namun tidak serta merta PNS terlepas dari kewajiban-kewajiban me “adat” ataupun “Ngayah”.

Tuntutan insentif bagi pelaku “Ngayah” tentunya sangat manusiawi diwacanakan karena memang beban dan tanggung jawab yang besar berada di pundak mereka dalam menjaga Bali. Jangan sampai “Ngayah” dengan “Layah” akhirnya “Benyah”. Namun beragam komentar atau tanggapan-tanggapan yang disuguhkan mengenai “Ngayah” cenderung mengaburkan makna sebenarnya persaudaraan dalam kerangka heterogenitas profesi dalam sebuah desa adat. Tentunya sangat dimungkinkan suatu saat timbul kesenjangan pengakuan porsi partisipasi antar krama adat yang jika tidak disadari dengan ikhlas cenderung menjadi benih-benih retaknya persatuan dan kesatuan krama Bali secara umum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s