Sertifikasi seharusnya hadiah buat guru, bukan musibah.


Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.Ungkapan yang familiar kita dengar terutama di tahun 80-an.  Kesejahteraan guru yang serba minim ibarat tokoh “Umar Bakri” dalam lagu. Guru ibarat sebuah profesi bagi orang-orang untuk orang-orang yang siap miskin. Alangkah terpuruknya profesi guru selama beberapa dekade yang faktanya berbeda 360 derajat dengan profesi yang sama di negeri tetangga. Namun demikian, guru-guru tua sukses mencetak orang-orang sukses, teknokrat, ilmuwan bahkan presiden adalah produknya.

Seperti pepatah, roda pasti berputar. Nasib guru dewasa ini sudah sangat diperhatikan. Termasuk dari segi financial yang baik, profesi guru menjadi incaran masyarakat penggila PNS. Berbagai kebijakan pemerintah digulirkan untuk kesejahteraan guru, termasuk berbagai peraturan-peraturan yang mengatur hak dan kewajiban guru, berbagai undang-undang yang mengikat guru yang mesti dengan rela dipaksa menjalankannya guna memperoleh kesejahteraan yang santer disebut “sertifikasi”.

Seorang guru wajib melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik pun juga wajib mengerjakan administrasi dan tugas-tugas lain dalam melayani siswa sebagai syarat memperoleh sertifikasi. Jadi kerja guru tidak bisa diukur cuma dari jam 8 sampai jam 1 siang, yang sebagian orang menganggap gampangan. Dan sebagian orang kantoran iri dibuatnya. Setiap saat guru selalu membawa “PR-nya” untuk dikerjakan dirumah.  Akibat demam “sertifikasi” tentu membuat flu,  pilek dan alergi pada profesi-profesi lain yang non guru. Mereka tentunya juga ingin mendapatkan sertifikasi pada bidangnya masing-masing.

Mengapa kesejahteraan yang ingin diraih mesti dipersulit dengan berbagai aturan? Padahal jika sertifikasi itu adalah hadiah bagi guru atau hutang pemerintah selama bertahun-tahun kepada jasa guru yang tidak diperhatikan, tidak perlu dibikin sulit.

Faktanya untuk memenuhi syarat-syarat tersebut, banyak siswa yang terlantar. Bayangkan saja, guru mesti menyelesaikan administrasinya yang wajib ia kerjakan di sekolah, siswa pun jarang mendapat pelajaran yang berkualitas. Guru sering tidak masuk kelas.

Guru mesti mengajar 24 jam agar memperoleh sertifikasi. Bagaimana jika jumlah murid sedikit? Mungkin hanya 15 jam atau 20 jam. Guru mesti pusing mencari jam mengajar di sekolah lain yang kadang dapat atau bahkan sering gagal.  Gembar-gembor wacana team teaching untuk mengatasi masalah masih dipertanyakan. Dan faktanya masih segudang masalah lagi yang terjadi di lapangan.  Lantas bagaimana solusinya? 

Semestinya jika sertifikasi ini murni untuk meningkatkan kesejahteraan guru, hendaknya para pembuat peraturan harus mengedepankan solusi dibanding mempersulit dan membelit langkah guru. Sertifikasi semestinya meningkatkan kualitas pendidikan secara umum, bukan menjadi dilema dan memperberat langkah guru dalam melaksanakan kewajibannya.


Advertisements

2 thoughts on “Sertifikasi seharusnya hadiah buat guru, bukan musibah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s