D R O N A
Drona adalah seorang putra brahmana yang bernama Bharadwaja. Setelah menyelesaikan pelajarannya tentang Weda-Weda dan Wedanga-wedanga Drona lalu memusatkan hati dan pikirannya guna mempelajari seni dan keakhlian mempergunakan senjata dan peralatan perang dan kemudian menjadi mahir sekali. Drupada, putra raja Panchala yang menjadi kawan brahmana Bharadwaja, adalah teman belajar Drona di dalam asrama dan di antara keduanya tumbuhlah persahabatan yang sangat akrab dan saling kasih-mengasihi. Sewaktu mudanya Drupada sering dengan enthuasiasme menceritakan kepada Drona bahwa kalau ia kelak naik takhta kerajaan, setengah kerajaannya akan diberikannya kepada Drona.
Setelah menyelesaikan pendidikannya Drona kawin dengan saudara perempuan Kripa dan seorang putra lahir dari padanya yang diberi nama Aswatthama. Ia sangat cinta dan kasih sayang kepada istri dan anaknya dan demi untuk mereka ia berusaha keras untuk memperoleh kekayaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.
Mendengar bahwa Parasurama sedang membagi-bagikan kekayaannya kepada kaum brahmana, maka ia pun lalu pergi kepadanya. Tetapi ia sangat terlambat, sebab Parasurama telah memberikan semua kekayaannya kepada brahmana-brahmana lain dan telah siap untuk pergi ke hutan untuk melakukan pertapaan. Tetapi karena ingin berbuat sesuatu untuk Drona, maka Parasurama menawarkan kepada Drona bahwa ia bersedia mengajarnya mempergunakan senjata perang yang berat-berat karena Parasurarna memang adalah akhlinya.
Drona sangat setuju, apalagi ia memang seorang yang telah mahir dalam mempergunakan alat-alat perang, maka setelah belajar dari Parasurama ia menjadi akhli siasat perang dan pertempuran tidak ada taranya, sehingga ia memiliki kesanggupan untuk menjadi guru yang dibutuhkan bagi istana raja manapun pada saat-saat jaman peperangan sebagai sekarang ini.
Sementara itu Drupada naik takhta di kerajaan Panchala setelah ayahnya meninggal dunia. Teringat akan persahabatannya waktu kecil dengan Drupada dan perkataan-perkataannya yang menyatakan bersedia melayaninya sampai-sampai dengan membagi kerajaannya menjadi dua, maka Drona pergi ke situ dengan keyakinan bahwa ia akan diperlakukan dengan sangat ramah. Tetapi ia mendapatkan raja tersebut sangat berbeda dengan masa mudanya. Ketika ia memperkenalkan dirinya sebagai teman lama, Drupada, jangankan senang melihat dia, malahan merasa sangat tidak enak dengan kesimpulan semacam itu.
Karena haus akan kekuasaan dan kekayaan Drupada lalu berkata : “Hai brahmana, betapa lancangnya engkau telah mengatakan aku sebagai temanmu. Persahabatan semacam apakah yang ada di antara seorang raja yang memangku takhta dengan seorang pengemis yang mengembara? Alangkah sintingnya engkau dengan kesimpulan yang engkau dasarkan atas pengakuan perkenalan dahulu dan persahabatan dengan seorang raja yang memerintah suatu kerajaan !. Mana bisa jadi seorang pengemis miskin menjadi sahabat dari seorang kaya-raya, atau seorang tolol-pandir dari seorang pandai terpelajar, atau seorang pengecut dari seorang pahlawan gagah berani. Persahabatan hanya bisa jadi antara mereka yang sederajat. Seorang pengemis luntang-lantung tidak mungkin jadi sahabat dari seorang pemangku kedaulatan suatu negara”. Dengan jalan demikian Drona diusir dari Istana penuh ejekan dan makian dalam telinganya dan kebencian yang mendalam di hatinya.
Ia bersumpah dalam hatinya untuk menghukum raja yang angkuh itu, yang dengan penghinaan serupa ini telah menolak pengakuan tulus atas persahabatannya dahulu. Tujuan Drona berikut adalah untuk mencari kerja di Hastinapura, di mana ia tinggal beristirahat di rumah saudara iparnya, Mahaguru Kripa.
Pada suatu hari putra-putra raja bersenang-senang bermain bola di pinggir kota. Pada waktu mereka sedang asyiknya bermain, tiba – tiba bola dan cincin Yudhishthira jatuh ke dalam sumur. Mereka berkumpul di sekitar sumur memandang bola dan cincin itu bersinar dari dalamnya, tetapi tidak tahu bagaimana caranya mengambil kembali.
Dalam keadaan demikian dengan tidak mereka ketahui seorang brahmana berkulit hitam memandang sambil tersenyum.
“Putra makhkota sekalian, Tuan-tuan adalah keturunan bangsa Bharata yang heroik”, katanya mengejutkan mereka, “kenapa Tuan-tuan tidak bisa mengambil bola itu dari sumur, bukankah setiap orang pandai memainkan senjata pertempuran tahu bagaimana caranya mengambil bola itu? Atau bolehkah aku menolong kallan ?”.
Yudhishthira tertawa dan berkata secara jenaka : “Wahai Brahmana. apabila engkau dapat mengambil bola itu, kita akan atur supaya engkau makan enak di rumahnya Guru besar Kripa”. Brahmana yang berkulit hitam itu mengambil sehelai rurnput, memberi mantra sebentar, lalu membidikkan rumput tersebut menuju bola, persis seperti melepaskan anak panah dari busurnya dan tepat mengenai sasarannya. Dengan berturut-turut ia membidikkan helai rumput, sambung-menyambung sehingga menyerupai tali rantai yang panjang Kemudian brahmana itu menariknya dan bola itupun diambilnya ke luar dari sumur.
Putra-putra raja merasa sangat takjub dan bergembira akan permainan rumput brahmana itu lalu meminta kepadanya supaya mengambil cincin Yudhishthira dari sumur tersebut. Ia meminjam sebuah panah, dibidiknya anak panah ke arah cincin dalam sumur itu dan sekali lagi memang tepat mengenai sasarannya. Ditariknya kembali anak-panah itu ke luar sekaligus dengan cincin tersebut dan menyerahkannya kepada Yudhishthira dengan tersenyum.
Menyaksikan semua ini, putra-putra raja merasa makin takjub lalu berkata: “Yaah Brahmana salut kepadamu. Siapakah gerangan engkau ini ? Apakah yang dapat kami perbuat untuk Brahmana ?” seraya mereka membungkukkan badan tanda memberi hormat.
Brahmana itu berkata: “Putra-putra Raja belia, pergilah bertanya kepada Bhishma. Dari padanya nanti kalian ketahui siapa sebenarnya aku ini”. Dari gambaran yang dilukiskan oleh putra-putra raja itu, Bhishma pun mengetahui siapa gerangan brahmana itu, yang tidak lain adalah Drona, sarjana besar termasyhur itu. Ia lalu memutuskan bahwa Drona adalah orangnya yang paling tepat untuk memberikan pendidikan lanjutan kepada Pandawa dan Kaurawa. Demikianlah Bhishma lalu menerima Drona dengan penghormatan istimewa dan menugaskannya untuk memberi pelajaran dan latihan-Iatihan kepada putra-putra raja mempergunakan alat-alat senjata perang.
Setelah Kaurawa dan Pandawa menguasai ilmu pengetahuan persenjataan perang, Drona lalu mengirimkan Karna dan Duryodhana untuk menggempur Drupada dan menangkapnya hidup-hidup sebagai tugas kewajiban seorang siswa dari seorang guru dalam rangka menyelesaikan pendidikannya. Mereka berangkat sebagai yang telah diperintahkan, tetapi mereka tidak dapat melaksanakan sebagaimana mestinya. Maka Drona lalu mengirim Arjuna dengan misi yang sama. Ia tundukkan Drupada dalam pertempuran dan menangkapnya bersama-sama para menterinya, dan lalu menyerahkannya kepada Drona.
Drona dengan tersenyum berkata kepada Drupada: “Paduka Tuanku Raja Yang Agung, janganlah kawatir tentang keselamatan jiwamu. Pada masa kecil kita telah menjadi sahabat, tetapi engkau telah dengan suka hati melupakannya dan menghinakan daku. Engkau telah mengatakan kepadaku bahwa hanya seorang raja dapat menjadi sahabat dari seorang raja pula. Sekarang aku jadi raja, yang telah menaklukkan kerajaanmu. Namun demikian aku masih tetap ingin memulihkan perhubungan kita dahulu dalam bentuk persahabatan dengan engkau, dan oleh karenanya kuberikan kepadamu separoh dari kerajaanmu yang telah menjadi milikku dengan jalan menaklukkan engkau”.
Drona berpendapat bahwa ini adalah merupakan balas dendam yang cukup atas penghinaan yang ia derita, lalu membebaskan Drupada dengan perlakuan penuh kehormatan.
Terasa benar betapa kebanggaan hati Drupada terjatuh dalam-dalam, tetapi sejak kebencian tidak akan hapus dengan jalan balas dendam, ibaratnya kata pepatah tahi dibalas dengan tahi, maka dalam hidup ini hanya sedikit sekali dapat diderita oleh hati melebihi luka yang ditancapkan pada kehormatan seseorang. Demikianlah kebencian kepada Drona dan harapan untuk membalas dendam telah berakar dalam lubuk dada Drupada yang menguasai seluruh hidupnya. Ia lalu pergi bertapa, berpuasa, beribadah melakukan upacara-upacara keagamaan untuk memohon restu kepada para dewata agar dianugerahi seorang anak laki-Iaki yang akan menyembelih Drona dan seorang anak perempuan yang akan kawin dengan. Usaha Drupada ini kemudian berhasil dengan lahirnya seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, masing-masing diberi nama Drishtadyumna dan Draupadi, yang kelak menjadi panglima besar angkatan perang Pandawa dalam pertempuran di medan Kurukshetra dan Draupadi menjadi isteri Pandawa. ***
B h i m a s e n a
Maka Pandawa, kelima putra Pandu dan Kaurawa, keseratus putra Dhritarashtra, tumbuhlah makin besar dan hidup serta bermain bersama-sama dengan penuh kegembiraan di Hastinapura. Bhima, sebagai Pandawa yang kedua, adalah anak paling kuat phisiknya diantara semuanya. Ia bisa menundukkan Duryodhana dan Kaurawa lainnya dengan jalan menyeret rambut mereka dan menggebuki mereka, ia adalah juga jago renang dan sering membawa seorang Kaurawa atau lebih ke dalam kolam. Lalu dipeluknya mereka, di bawa menyelam dalam-dalam sampai kedasar kolam sehingga mereka kadang-kadang tidak berdaya lagi dan hampir tenggelam. Apabila mereka sedang bermain-main di atas pohon kayu, maka datanglah Bhima lalu menendangi pohon itu dan menggoyang-goyangnya sehingga mereka berjatuhan ibarat buah-buahan gugur saja layaknya.
Tidak jarang anak-anak Dhritarashtra babak belur akibat olok-olok atau permainan Bhima. Tidaklah mengherankan kalau-kalau di kelak kemudian hari dalam hati Kaurawa tumbuh rasa benci kepada Bhima yang dipupuk sejak mereka masih merupakan bocah-bocah kecil.
Berhubung mereka semuanya telah tumbuh makin besar, maka Mahaguru Kripa mengajarkan mereka tekhnik panah-memanah dan mempergunakan alat-alat dan senjata perang serta ilmu-ilmu lainnya yang patut menjadi pengetahuan pemuda-pemuda sebagai putra-putra raja.
Irihati dan dengki Duryodhana kepada Bhima menyebabkan ia suka berbohong dan berbuat yang tidak-tidak terhadap Bhima. Duryodhana sesungguhnyasangat benci dan khawatir, karena ayahnya buta dan kerajaan diperintah oleh Pandu, pamannya. Apabila Pandu meninggal, Yudhishthira sebagai akhli warisnya sudah barang tentu pada waktunya nanti akan menjadi raja. Oleh karena ayahnya buta dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka Duryodhana berpendapat bahwa ia harus menghalang-halangi Yudhishthira naik takhta dengan jalan merencanakan pembunuhan Bhima. Ia lalu membuat persiapan untuk melaksanakan ketetapan hatinya sebab ia berpikir, bahwa dengan matinya Bhima kekuatan Pandawa pasti akan menjadi hancur.
Duryodhana bersama-sama saudara-saudaranya merencanakan untuk melemparkan Bhima ke dasar Sungai Ganga, membekuk Arjuna dan Yudishthira, dan merampas kerajaan. Demikianlah Duryodhana dengan disertai oleh saudara-saudaranya dan Pandawa pergi ke Sungai Ganga untuk berenang. Setelah habis berenang-renang, mereka lelah, lalu beristirahat dalam kemah mereka. Bhima Juga merasa lelah sekali karena ia lebih banyak berenang dari pada lainnya. Dan karena makanannya diisi racun, Bhima merasa puyeng gentayangan lalu merebahkan diri dipinggir sungai. Dengan tergesa-gesa Duryodhana mengikat Bhima dengan pohon-pohonan berduri dan dedaunan yang gatal lalu melemparkan Bhima ke tempat yang telah dipasangi paku-paku tajam sengaja dibuat untuk itu dengan, maksud kalau Bhima jatuh di atasnya ia pasti mati akibat luka-Iuka kena paku-paku tajam beracun.
Tetapi Bhima tidak jatuh di tempat berpaku-paku itu, melainkan hanyut ke dalam sungai. Ular-ular air yang sangat berbisa mematuk-matuk dia dan berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa, bisa ular itu berlawanan dengan racun yang diisikan dalam makanan Bhima sehingga itu dapat dinetralisasikan dalam tubuhnya dan tidak menyebabkan bahaya apa-apa baginya. Bhima hanyut dibawa arus dan tidak jauh dari tempat itu ia dihempaskan oleh aliran air ke tepi sungai.
Duryodhana menyangka Bhima pasti sudah mati, karena keracunan makanan, karena tusukan paku-paku tajam dan karena gigitan ular-ular berbisa. Ia kembali ke kota bersama-sama rombongannya dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Ketika Yudhishthira bertanya ke mana perginya Bhima, Duryodhana mengatakan bahwa Bhima telah kembali ke kota lebih dahulu, Yudhishthira percaya akan perkataan Duryodhana dan segera sesampainya dirumah bertanya kepada ibunya kalau-kalau Bhima sudah kembali. Ternyata Bhima belum kembali dan timbullah kecurigaan, bahwa tentu ada terjadi apa-apa sengaja direncanakan terhadap Bhima. Yudhishthira pergi bersama-sama Arjuna kembali ke tempat perkemahan dalam hutan di pinggir sungai dan mencari Bhima di mana-mana. Mereka kembali dengan perasaan sedih.
Beberapa waktu kemudian Bhima siuman, lalu bangkit dan mencoba berjalan dengan susah payah kembali pulang. Kunti dan Yudhishthira menerima Bhima dengan sangat girang dan perasaan bahagia. Berkat campuran dan peredaran secara kimia racun dalam badannya, maka Bhima menjadi bertambah kuat dan kebal.
Kunti menyampaikan semua rencana rahasia ini kepada Widura : “Duryodhana adalah jahat dan kejam. Ia telah mencoba membunuh Bhima karena ia ingin memerintah kerajaan ini. Aku merasa cemas”. Widura menjawab : “Apa yang engkau katakan itu adalah benar, tetapi simpanlah-semua itu di dalam hatimu sendiri, sebab kalau Duryodhana yang jahat itu dituduh dan disalahkan, kemarahan dan kebenciannya hanya akan bertambah-tambah. Anak-anakmu adalah mendapat restu untuk hidup lama. Engkau tidak usah cemas akan hal itu”.
Yudhishthira juga menasehatkan kepada Bhima dan berkata : “Berdiamlah engkau akan hal itu. Mulai sekarang kita harus hati-hati dan waspada, bahu-membahu untuk membela diri kita bersama”.
Duryodhana sangat terkejut melihat Bhima hidup kembali. Perasaan irihati dan dengkinya makin menjadi-jadi. Ia bernafas dalam-dalam untuk menanamkan kebencian yang tidak terkendalikan Iagi dalam lubuk hatinya. Nafas dalam dan panjang ini dikuncinya : “Bhima harus dimusnahkan!” Dan menurut kehendak Kaurawa, sebetulnya Guru besar Drona-lah yang mestinya dapat membinasakan Bhima sebagai biang keladinya malapetaka.
Bhima memiliki kekuatan phisik hebat perkasa, sedangkan Guru Besar Drona adalah seorang mahir dalam ilmu perang tanding dan ahli strategi pertempuran total dan sakti dengan kekuatan gaibnya. Dengan diam-diam Guru besar Drona menyuruh Bhima pergi mencari tirtha prawidhi, air suci dengan pesan : “Barang siapa memiliki air ini akan dapat memahami hidup ini dan akan dapat mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, Sangkan Paraning Dhumadhi”. Tetapi barang siapa ragu-ragu, pasti akan tidak sampai.
Bhima, yang tidak pernah banyak berpikir untuk suatu tindakan, asal ia yakin, tidak ragu-ragu bertindak. Walaupun ibunya, Dewi Kunti sering mencemaskan hal ini, namun Bhima bersiap untuk pergi, tancap gas lari sekencang-kencangnya masuk hutan belantara, mencari air hidup prawidhi dalam gua di kaki gunung Chandramukha. Hutan belantara penuh binatang buas, raksasa, setan-jin-dedemit dan sebangsanya di mana Bhima tidak ambil pusing. Suatu saat ia harus berhadapan dengan dua raksasa, Rukmukha dan Rukmakhala. Keduanya ia tantang dan perkelahian hebat tidak bisa dihindarkan. Dengan kekuatan phisiknya bagaikan gunung berapi meletus ia menerjang kedua raksasa, Rukmukha dan Rukmakhala hingga tewas di kala itu juga. Tidak disangka kedua raksasa ini adalah penjelmaan Batara Indra dan Batara Wayu, ayah Bhima sendiri, yang sesaat setelah Rukmukha dan Rukmakhala roboh mati kembali dalam wujud semula.
Dari Batara Indra dan Batara Wayu Bhima menerima hadiah sebuah mantra dan satu ikat pinggang sebagai bekal kekuatan untuk mengarungi samudera paling dalam mana pun di dunia ini. Dari Batara Wayu ia mendapat petunjuk bahwa air hidup yang dimaksud terletak dalam telaga Gumuling, di tengah-tengah rimba Palasara. Di dalam rimba belantara inilah Bhima mesti berhadapan dengan seekor naga raksasa sebesar Gunung Sumeru bernama Anantaboga.
Naga raksasa Anantaboga menyerang Bhima, mengibas ekornya dan membelit seluruh badan pahlawan Pandawa ini. Dengan kukunya yang terkenal dengan julukan Pancanaka, Bhima mencekik batang leher Anantaboga, menembus tenggorokannya tempat gantungan nyawanya terakhir. Anantaboga menggelepar, menggeletak tewas seketika. Setelah mati, naga raksasa ini menjelma Dewi Maheswari, yang karena kutuk-pastu Pramesti Guru terpaksa menjalani hukuman menjadi naga raksasa ini. Dari Dewi Maheswari, Bhima mendapat petunjuk untuk mencari air hidup prawidhi di dalam samudera raya.
Dengan mantra Jalasengara, Bhima mengarungi samudera dalam penuh gelombang bergulung-gulung setinggi gunung. Di dalam Samudera Selatan ini ia berhadapan lagi dengan naga besar Nawatnawa yang menyemburkan hujan bisa penuh racun kepadanya. Tetapi berkat pengalaman di sungai Ganga dulu, badannya menjadi kebal, dan berkat ikat pinggang hadiah Batara Wayu, Bhima mudah saja mengambang di samudera raya. Dengan tangkas ia dapat menaklukkan naga Nawatnawa, mencekik batang lehernya dengan kukunya Pancanaka, hingga mati. Tetapi Bhima sendiri kini sangat letih, diombang-ambing gelombang-gelombang raksasa, sehingga terempas ke sebuah pulau karang emas. Bhima tiada sadarkan dirinya menggeletak di atas karang emas seorang. diri, tanpa pertolongan pada kecelakaan pertama. Dewa Ruci sangat belas kasihan kepada Bhima, lalu memamerkan sinar sangat cemerlang, menyebabkan Bhima siuman. Ia sangat kaget berhadapan dengan manusia liliput, sangat kerdil, persis menyerupai dirinya.
“Aku ini Dewa Ruci, orang juga menyebut namaku Nawaruci. Aku berada di tempat ini karena hendak menolong engkau Bhimasena. Masuklah engkau, hai pahlawan perkasa, ke dalam telingaku. Engkau akan menemui apa yang kau cari !” Bhima sangat bertambah kaget lagi mendengar perintah aneh dari manusia Liliput ini, yang selanjutnya berucap: “Sebenarnya di tempat ini tidak ada apa-apa, sunyi tanpa busana tanpa boga, serba sempurna. Selama ini rupa-rupanya engkau hanya setia kepada ucapan, mengabdi kepada gema, sebagai bentuk segala kepalsuan”. Uraian philosofis gaib ini menyebabkan Bhima melongo. Dewa Ruci berkata lagi: “Siapakah yang lebih besar, wahai Panduputra, kamu ataukah alam semesta ini yang ada dalam tubuhku ini? Makrokosmos ini adalah Aku, dan engkau sebagai mikrokosmos ada di dalamnya”. Bhima yang tadinya menduga bahwa bagaimana mungkin ia bisa masuk ke dalam lubang telinga Liliput ini sedangkan kelingkingnya saja tidak mungkin masuk, kini mengerti dan dengan tidak ragu-ragu lagi melaksanakan perintah gaib itu.
Tanpa disadari Bhima kini merasa berada di tengah-tengah alam kosong berhadapan dengan sebuah boneka dalam bentuk gading memancarkan sinar putih, merah, kuning dan hitam, perlambang dari jiwa manusia dengan sifat-sifat murni, jujur, berangasan, lekas marah, baik hati, berbudi, angkara murka dan serakah. Kemudian Bhima menyaksikan tiga buah boneka emas, gading dan permata yang melambangkan ketiga-tiga dunia, yaitu Jnanaloka, Guruloka dan Indraloka (badan jasmani, alam kesadaran dan dunia rohani manusia). Tanpa disadari pula Dewa Ruci, manusia Liliput gaib dan agung itu lenyap dari pandangannya. Kini Bhima kiranya dapat menangkap makna air suci, air hidup prawidhi yang harus dicarinya. ***
***
W i d u r a
Resi Mandawya, yang telah memperoleh kekuatan jiwa dan pengetahuan tentang kitab-kitab suci, melewatkan hari-harinya dengan jalan bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan seperti diisyaratkan oleh agama. Ia tinggal dalam sebuah pertapaan dalam hutan di tepi kota. Pada suatu hari ketika ia sedang khusuknya dalam pertapaan menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon kayu rindang di luar gubuknya, segerombolan penyamun telah melarikan diri ke dalam hutan dikejar-kejar oleh pasukan bala-tentara kerajaan. Gerombolan ini memasuki pertapaan itu karena menyangka bahwa tempat itu pasti akan dapat melindungi diri mereka. Mereka menyembunyikan diri mereka dan hasil perampokan mereka dalam suatu pojok. Balatentara kerajaan mengikuti jejak mereka ke pertapaan tersebut.
Pemimpin pasukan balatentara itu bertanya kepada Resi Mandawya, yang sedang tenggelam dalam pertapaan menyatukan jiwanya, dengan perintah keras : “Apakah kau melihat perampok lewat di sini ? Ke manakah mereka pergi ? Ayo, jawablah segera supaya kita dapat menangkap mereka seketika”. Resi itu, benar-benar tenggelam dalam yoganya, tidak menjawab apa-apa. Pemimpin itu mengulangi perintahnya dengan kasar.
Tetapi resi itu tidak mendengar apa-apa, sedangkan beberapa orang anggota pasukan memasuki pertapaan dan gubuknya dan menemukan barang-barang rampokan itu. Mereka melaporkan kepada pemimpin mereka hal tersebut, lalu menyerbu masuk dan diketemuilah semua barang-barang curian dan para perampoknya sekaligus yang bersembunyi di dalam pertapaan tersebut. Pemimpinnya berfikir bahwa : “Sekarang aku tahu sebab-sebabnya kenapa brahmana ini pura-pura saja diam, terbenam dalam semadinya” “Sesungguhnya ia inilah kepala penyamun ini. Ia yang merencanakan perampokan ini”.
Kemudian ia lalu memerintahkan anak-buahnya mengurung tempat itu dan ia sendiri pergi melaporkan ke istana bahwa Resi Mandawya telah ditangkap dengan semua barang rampasannya.
Raja sangat amarah atas kelancangan kepala penyamun itu yang telah berani menyamar menggunakan nama dan pakaian resi untuk menipu dunia. Tanpa ampun dan pemeriksaan fakta-fakta terlebih dahulu, raja memerintahkan penjahat licik itu untuk dianiaya dengan tombak. Komandan itu kembali ke pertapaan, menganiaya resi ini dengan jalan menusuk badannya dengan tombak hingga tembus dan kemudian memancangnya. Barang-barang rampasannya lalu dipersembahkan kepada raja.
Resi yang suci. penuh kebenaran itu walaupun telah ditusuk-tusuk, dipancang di ujung tombak namun ia tidak mati. Karena ia adalah sedang dalam yoga walaupun ditusuk-tusuk dengan tombak ia tetap hidup dengan kekuatan yoganya. Para resi yang tinggal di bagian lain dalam hutan itu pada datang ke tempat itu lalu bertanya kepada Resi Mandawya apa gerangan yang menyebabkan ia sampai menderita sekejam itu.
Mandawya menjawab : “Siapakah yang harus disalahkan ? Pasukan raja yang harus melindungi dunia ini telah melakukan hukuman ini”. Raja terkejut dan cemas mendengar bahwa resi yang telah ditusuk dengan tombak masih hidup dan sedang dikerumuni oleh para resi yang tinggal di seluruh hutan itu. Ia segera pergi ke hutan bersama-sama balatentaranya, dan segera memerintahkan supaya resi itu diturunkan dari tombak. Ia lalu berlutut sembari menyembah dengan sujudnya dan meminta ampun atas hukuman keji yang telah diperintahkannya.
Resi Mandawya tidak marah kepada raja. Ia segera pergi menghadap Bagawan Dharma, penyebar keadilan suci, yang sedang duduk di atas singgasananya, lalu bertanya : “Kejahatan apakah yang aku telah lakukan untuk menerima hukuman ini ?” Bagawan Dharma; yang mengetahui kekuatan gaib resi itu, menjawab dengan rendah hati : “Wahai Resi, engkau telah menyiksa burung-burung dan kumbang-kumbang. Engkau tidak sadar akan semua perbuatan itu. Kebaikan dan kejahatan, walaupun bagaimana kecilnya, pasti harus menerima akibatnya, baik atau keji”.
Mandawya terkejut mendengar jawaban Bagawan Dharma ini lalu bertanya lagi : “Kapankah aku telah berbuat kesalahan ini”, dan Bagawan Dharma menjawab : “Ketika engkau masih kanak-kanak”.
Resi Mandawya lalu mengucapkan kutuk-pastunya kepada Bagawan Dharma : “Hukuman yang engkau putuskan ini adalah keterlaluan, melampaui batas kesalahan yang diperbuat oleh kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa. Karenanya, lahirlah engkau ke dunia sebagai manusia !”.
Bagawan Dharma yang dikutuk-pastu oleh Resi Mandawya numitis, menjelma, sebagai Widura dan lahir sebagai pelayan Ratu Ambalika istri maharaja Wichitrawirya.
Demikianiah kisahnya, bahwa sesungguhnya Widura adalah inkarnasi Bagawan Dharma. Orang orang di dunia menganggap Widura sebagai seorang mahatma tidak ada taranya dalam ilmu pengetahuan tentang dharma, peradilan sastra dan ketatanegaraan dan sama sekali tidak pernah mempunyai keinginan ambisi apa-apa dan tidak pernah marah. Bhishma tela mengangkat dia ketika ia masih berumur belasan tahun sebagai penasehat utama raja Dhritarashtra.
Menurut Bagawan Wyasa, tidak ada orang yang menandingi Widura di ketiga-tiga dunia ini, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam soal-soal kebajikan. Ketika Dhritarashtra mengijinkan anak-anaknya berjudi, bermain dadu, Widura menyembah di kakinya sambil rnemprotes dengan sujudnya : “Oh Tuanku Raja, aku tidak dapat menyetujui perbuatan ini. Pertengkaran akan terjadi di antara putra-putra Tuanku akibat permainan ini. Berdoalah, jangan diijinkan hal ini”.
Tetapi karena cintanya sangat besar terhadap anak-anaknya, ia tidak kuasa menolaknya dan memutuskan untuk mengutus Yudhishthira guna menerima undangan bermain dadu itu. ***
BANGSA YADAWA MUSNAH
Ketika perang di medan Kurukshetra berakhir, dan Yudhishthira dinobatkan sebagai raja, di mana ia juga melaksanakan upacara Ashwamedha yang agung, Krishna minta diri kepada Pandawa untuk kembali pulang ke negrinya, Dwaraka. Dalam perjalanan pulang tersebut Krishna bersua dengan kawan lamanya seorang brahmana bernama Utanga di tengah jalan. Krishna berhenti, turun dari keretanya, lalu memberi salam kepada brahmana tersebut. Maka terjadilah percakapan yang agak panjang di antara kedua kawan-lama ini. Masing-masing menanyakan tentang kesehatan, keadaan sanak keluarga serta kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai dalam perjalanan hidup ini.
Utanga juga menanyakan tentang berita keadaan Pandawa, sebab ia tahu Krishna adalah keluarga dekat mereka. Brahmana yang malang itu sama sekali tidak mendengar berita tentang peperangan yang besar yang telah berlangsung di medan Kurukshetra. Krishna merasa heran akan hal itu. Untuk beberapa saat tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Akhirnya Krishna terpaksa menceritakan panjang-lebar tentang pertempuran dahsyat antara Kaurawa dan Pandawa. Krishna juga menceritakan betapa ia telah mencoba agar perang tersebut tidak terjadi, tetapi sia-sia. “Hampir semuanya habis, tewas dalam medan pertempuran. Siapakah yang dapat mengelakkan diri dari renggutan tangan nasib? Krishna mengakhiri ceritanya.
Mendengar cerita tersebut Utanga merasa jijik, benci dan amarahnya timbul. Matanya merah, hatinya panas, lalu berkata mengutuk Krishna dan menuduh dia telah membiarkan kejadian itu berlangsung tanpa berusaha menghindarkannya. la menuduh Krishna telah menipu, dan tidak melakukan tugas kewajibannya sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan kemusnahan Kaurawa. “Sekarang, bersiaplah engkau menerima kutuk pastu dariku” katanya mengakhiri tuduhannya terhadap Krishna.
Krishna menyabarkan brahmana itu dengan tersenyum-senyum dan memberi nasehat kepadanya agar ia tidak mempergunakan hasil jerih-payah pertapaannya untuk yang bukan-bukan, dan meminta kepadanya agar mau mendengar kisah secermat-cermatnya sebelum mengucapkan kutuk pastunya. Setelah Krishna memberi perincian peristiwa dan kejadian sebelumnya, yang menyebabkan perang Kurukshetra itu berlangsung, dan belum juga Utanga menunjukkan pengertian akan duduknya persoalan, maka Krishna memperlihatkan dirinya dalam bentuk Wishwarupa, sebagai manifestasi Hyang Tunggal, lalu berkata : “Aku lahir dalam segala bentuk dan segala jaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Dalam bentuk apapun aku dilahirkan, aku harus mengikuti kodrat dari pada jasmaniku. Apabila aku dilahirkan sebagai Dewa, maka Aku bertindak sebagai Dewa. Bila aku dilahirkan sebagai yaksha atau raksasa, aku akan berbuat seperti yaksha atau raksasa. Apabila aku dilahirkan sebagai manusia, maka aku akan berbuat sebagai manusia dalam melakukan tugasku sampai kelahiran sebagai manusia selesai. Dalam hubungan ini aku telah meminta Kaurawa untuk tidak mabuk dan berkeras kepala. Tetapi mereka tidak ambil pusing akan semua itu. Mereka terus saja membuat kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan yang menimbulkan perang, sehingga perang itu memusnahkan mereka sendiri. Brahmana yang budiman, demikianlah kisahnya. Engkau tidak mempunyai alasan untuk marah-marah”.
Setelah mendengar keterangan dan melihat siapa sebenarnya Krishna, amarah Utanga hilang lenyap seketika, yang menyebabkan Krishna merasa senang, lalu berkata: “Nah, sekarang apakah gerangan kehendak Brahmana yang bisa kuberikan?”
Utanga merasa sangat bersyukur telah bertemu dengan Hyang Tunggal yang menjelma dalam diri Krishna dan tidak hendak bermohon apa-apa. Tetapi terus mendesak agar dia meminta sesuatu. Akhirnya ia pun memajukan permohonan: “Kalau Engkau hendak menganugerahi aku sesuatu, baiklah Engkau beri aku mantra yang bisa menolong aku mendapatkan air bilamana dan di mana saja aku merasa dahaga”. Krishna meluluskan permintaannya tersebut.
Pada suatu hari Utanga merasa sangat haus dan tidak dapat menemui air untuk diminumnya. Ia teringat akan mantra yang diberikan oleh Krishna kepadanya. Segera setelah selesai mengucapkan mantra tersebut, seorang pria kotor tiba-tiba muncul di depannya. Pakaiannya compang-camping dan seluruh badannya kotor diliputi debu. Bau keringatnya menusuk hidung. Di tangan kanannya ia memegang alat berburu, sedangkan di pinggangnya terselip sebilah kapak. Sebuah kantong kulit berisi air tergantung di pundaknya yang diapit oleh tangan kirinya. Seekor anjing mengipas-ngipaskan ekornya di bawah kakinya. Orang kotor dan menjijikkan itu nyengir, seraya berkata: “Rupa-rupanya Brahmana sangat kehausan. Aku ada membawa air dalam kantong kulit ini. Silahkan minum” sambil mengisi cangkir bambunya untuk disuguhkan kepada Utanga.
Melihat orang kotor dan anjingnya yang memuakkan itu, Utanga berkata dengan jijik: “Ah, Aku tidak membutuhkannya, terima kasih !” sambil berpikir-pikir bahwa “hadiah” yang diberikan oleh Krishna kepadanya sebagai olok-olok belaka. Nishada, orang kotor itu, berulang-ulang menawarkan airnya kepada Utanga, sebab ia tahu brahmana itu sangat kehausan. Utanga menjadi bertambah marah karena jijiknya. Kemudian pemburu yang memuakkan itu lenyap dengan anjingnya dari pemandangan.
Tatkala pemburu itu lenyap dan ia kembali sendirian, Utanga berpikir-pikir lagi, siapa gerangan orang yang muncul dan pergi itu secara sangat aneh? Ia mulai merenungkan, bahwa orang itu tidak mungkin seorang paria, Nishada biasa. Sebagai suatu introspeksi hatinya berkata-kata: “Mungkin hanya merupakan cobaan bagiku. Ah, aku telah berbuat tolol! Kenapa aku mesti tolak airnya dengan cara yang angkuh, sedangkan aku sesungguhnya merasa sangat haus ? Sungguh tolol aku ini”
Sesaat kemudian muncullah Krishna dengan cakra dan trompet kerangnya, tersenyum di depan Utanga. Brahmana itu memprotes: “Hai, Purushottama, engkau telah mencoba aku secara terlalu kasar. Masakan engkau mencoba aku, seorang brahmana, dengan jalan memberikan air yang kotor dari orang paria yang tabu kalau kusentuh. Engkau tidak adil, dan ini kelakar yang tidak lucu”, sungutnya kepada Krishna.
Janardana tersenyum, lalu menceritakan apa yang telah dikerjakannya sewaktu Utanga mengucapkan mantranya, Krishna meminta kepada Batara Indra agar memberikan amrita, air suci, kepada Utanga sebagai air minum untuk melepaskan dahaganya. Batara Indra tidak mau memberikan amrita kepada seorang manusia, sebab air suci itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak lagi menemui kematian seperti halnya manusia di dunia ini. Tetapi Krishna terus mendesak dan akhirnya Batara lndra setuju dengan catatan bahwa Ia sendiri mau memberikan Utanga amrita tersebut dalam bentuk sebagai manusia paria, Nishada. Oleh Batara Indra hal ini memang dimaksudkan sebagai cobaan bagi Utanga. Kalau Utanga memang benar-benar telah mencapai Jnana, ilmu pengetahuan yang tinggi, sudah pasti ia akan menerimanya. Tetapi Utanga yang dungu itu menolaknya, menyebabkan Krishna mendapat malu besar di hadapan Batara Indra. Mendengar cerita itu Utanga merasa sangat menyesal dan malu atas ketololannya sendiri.
* * *
Demikian Krishna kembali ke negrinya dan memerintah selama tigapuluh enam tahun sesudah perang besar Kurukshetra. Selama ia memegang tampuk pemerintahan rakyat merasa bahagia. Suku-suku Wrishni dan Bhoja yang merupakan cabang bangsa Yadawa, di mana Krishna termasuk di dalamnya, terkenal sebagai suku-suku yang suka bersenang-senang dan bergembira.
Sejak Krishna memerintah mereka jadi makmur, dan kemakmuran mereka ini menyebabkan mereka suka pada barang-barang mewah, makan makanan yang serba lezat dan minum-minuman keras. Lambat laun mereka menjadi bangsa yang sembrono, angkuh, liar tidak berdisiplin, suka mabuk dan melampiaskan hawa nafsu. Pejabat pemerintahan korup, para pedagang main suap, wanita jalang, pemuda-pemuda suka pesiar dan remaja banyak morfinis.
Pada suatu hari seorang resi dari negri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Ia dipermainkan oleh segerombolan orang kota. Mereka memperolok-olokkan dan mengejek resi itu dengan suatu lelucon yang tidak lucu. Salah seorang di antara mereka laki-laki muda diberi pakaian perempuan hamil yang perutnya besar, diganjal dengan bantal, lalu dihadapkan di muka brahmana itu. Mereka. bersorak-sorak, tertawa kegirangan dengan olok-olok mereka, di mana “perempuan” bunting itu dengan genit menari-nari di depan brahmana, seraya bertanya kepadanya : “Wahai Resi yang Mahabijaksana, ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan ini akan punya anak lakl-laki atau perempuan”. Sang brahmana merasa tersinggung hatinya dan dengan kutuk pastunya menjawab: “Orang ini akan melahirkan sebuah gada, bukan seorang laki-Iaki atau perempuan. Gada itu adalah Batara Yama, yang akan memusnahkan bangsamu ini, termasuk engkau sekalian”.
Mereka yang hadir di situ merasa kaget mendengar jawaban Resi itu. Mereka menyesal dan banyak di antara mereka yang .mendengar kutuk pastu sang brahmana merasa ketakutan, yang mulanya hanya mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dari hasil olok-olok mereka.
Benarlah hari-hari berikutnya, pemuda Samba yang diberi pakaian perempuan bunting oleh teman-temannya itu, merasa sakit pada perutnya seperti orang hendak melahirkan. Alangkah paniknya mereka ketika benar-benar melihat pemuda Samba melahirkan sebuah gada, alat perang yang kuat perkasa, dan bukan bayi laki-Iaki atau perempuan. Kejadian itu menimbulkan teror dalam jiwa mereka, sebab seperti yang diramalkan oleh Resi yang misterius itu, bangsa mereka akan musnah, termasuk mereka sendiri.
Beramai-ramai mereka hancurkan gada itu sehingga menjadi abu.
Mereka semufakat untuk membuang abu itu jauh-jauh. Abu, hancuran gada ajaib itu, dihamburkan di laut secara terpisah-pisah, ditebarkan dimana-mana. Setelah itu mereka lupalah akan lelucon mereka. Pemuda Samba hidup sebagai seorang laki-Iaki biasa lagi. Tahun berganti tahun, musim panen berganti musim kering, rakyat hidup makmur dan bahagia. Di tempat di mana abu gada ditebarkan, lambat-laun tumbuh rumput raksasa dengan sangat rimbunnya, dengan batangnya sebesar-besar batang bambu.
Di antara bangsa Yadawa, selain Krishna sendiri dan bala tentaranya yang ikut mengambil bagian dalam perang di medan Kurukshetra, juga Kritawarma bersama pasukannya bertempur di pihak Kaurawa, sedangkan Satyaki dengan pasukannya pula di pihak Pandawa. Sewaktu kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan untuk melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, di mana pada hari-hari tertentu mereka diijinkan minum minuman keras.
Sebagai bangsa yang periang dan gemar bersuka ria, pada suatu hari mereka mengadakan darmawisata ke tepi pantai tempat tumbuhnya rumput raksasa yang lebat itu. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum-minuman keras, sehingga mabuk-mabuk. Dalam keadaan mabuk-mabuk itu terjadilah pertengkaran mulut, yang tumbuh menjadi perkelahian yang hebat. Mula-mula baku-tinju, tetapi kemudian, dengan batang-batang rumput raksasa yang diruncingi, mereka baku-tusuk.
Pangkal mula pertengkaran, yang kemudian menjadi pertempuran itu, adalah disebabkan oleh percekcokan mulut antara Kritawarma dan Satyaki, yang sama-sama dalam keadaan mabuk. Satyaki berkata: “Apakah seorang kesatria sejati akan mau menyerang dan membunuh musuhnya yang sedang tidur nyenyak? Engkau Kritawarma, telah membawa malu kepada bangsa kita buat selama-lamanya“ dengan mengejek, yang diikuti oleh kawan-kawannya yang lain. Kritawarma tidak tahan akan ejekan itu, membalas dengan pedas: “Engkau seperti tukang potong sapi saja, telah membunuh Bhurisrawas yang dalam keadaan duduk bersila dengan samadinya. Engkau Satyaki, pengecut, masih juga berlagak kesatria”, dan kawan-kawannya tidak ketinggalan membakari semangat Kritawarma.
Perkelahian mulut ini ternyata tidak bisa dibatasi di situ saja. Ia menjadi sungguh-sungguh dan kemudian pertempuran yang sengit antara dua pihak meledak: pro Kritawarma atau Satyaki. Putra Krishna, Pardyumna juga ada di situ bermaksud menolong, menyelamatkan Satyaki, terlibat dalam pertempuran itu sehingga ia menemui ajalnya: kutuk pastu resi yang pernah mereka hinakan rupa-rupanya mulai membuahkan hasilnya. Batang rumput yang diruncingi ujungnya, merupakan senjata utama dalam pertempuran ini. Demikianlah kedua belah pihak mati di ujung senjata tajam itu, tidak terkecuali, laki dan perempuan, tua dan muda, kesatria dan bukan pahlawan atau pengecut, sehingga bangsa Yadawa musnah seluruhnya.
Balarama, yang menyaksikan peristiwa ini merasa sangat malu, meninggalkan tempat itu, pergi menghabiskan hidupnya dengan yoga di bawah pohon kayu besar hingga saat-saat terakhirnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri. Dan setelah ia mengetahui abangnya, Balarama, sudah meninggalkan dunia mayapada ini, ia sendiri pergi mengembara ke dalam hutan. Di tengah-tengah hutan belantara ia merebahkan dirinya sambil berkata : “Kini telah tiba waktunya bagiku untuk pergi buat selama-lamanya meninggalkan dunia ini”.
Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan liwat di dekat-dekat tempat Krishna merebahkan dirinya. Jaras melepaskan anak panahnya yang tepat menembus kaki dan tubuh Krishna yang disangkanya seekor rusa sedang beristirahat. Pada saat itu juga Wasudewa menghembuskan nafasnya yang penghabisan untuk meninggalkan dunia manusia ini. Arjuna datang ke Dwaraka untuk melakukan upacara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemudian, seluruh negri Dwaraka dilanda banjir dan ombak samudra yang dahsyat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar laut.
***
MAHABHARATA : COBAAN TERAKHIR BAGI YUDHISTHIRA
Setelah Dhritarashtra, Gandhari dan Kunti terbakar dimakan api dalam hutan, pertapaan mereka, dan setelah Krishna — sekutu mereka terpercaya dari Dwaraka — beserta seluruh bangsanya musnah, maka Pandawa menobatkan Parikshit, putra Abhimanyu dengan istrinya Uttari Dewi, di atas takhta kerajaan sebagai Rajadiraja untuk memerintah di Hastinapura, sedangkan mereka bersama-sama Draupadi pergi ke Himalaya untuk mencapai kediaman Batara Indra di puncak Gunung Mahameru. Seekor anjing menyertai mereka dalam pengembaraan menuju ke gunung suci itu. Dengan mengunjungi berbagai tempat suci dan melintasi hutan belantara yang penuh dengan binatang buas, setan-jin dan berbagai makhluk ajaib, ketujuh mereka itu, Yudhishthira, Bhimasena, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Draupadi dan anjing mereka, siang dan malam berjalan tidak henti-hentinya.
Maka tibalah mereka di kaki Gunung Himalaya, mulai mendaki dengan susah payah. Ketika mereka mendaki puncak Gunung Mahameru, satu persatu mereka jatuh ke dalam jurang dan lenyap dari bumi ini. Mula-mula jatuh Draupadi yang memiliki cinta yang sangat besar terhadap Arjuna, disusul oleh Sahadewa yang hanya percaya dan yakin akan kekuatan sendiri tidak ada taranya. Kemudian Nakula. yang sadar akan. keindahan perawakannya dan keyakinan pada kebenaran pemikirannya sendiri, disusul oleh Arjuna yang yakin pada dirinya sendiri untuk menghancurkan semua musuh-musuhnya. Demikian besar keyakinannya sehingga ketika ia jatuh, ia tidak mau menyerah begitu saja, sampai-sampai sabda dari sorga datang yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin selama ia masih ada di dunia. Kemudian Bhimasena yang merasa kekuatannya seperti angin topan juga jatuh, lenyap dari bumi ini.
Yudhishthira terus mendaki dengan anjingnya dengan tidak lagi membiarkan hatinya berduka. Di hadapannya terbentang nyala api kebenaran, menerangi jalan yang ditempuhnya, walaupun kanan-kirinya tebing dan jurang menganga dalam kegelapan. Makin terang baginya mana kegelapan, mana bayangan dan mana kebenaran. la berjalan terus disertai dengan anjingnya yang tidak dilepas-lepaskannya, walaupun istri dan saudara-saudaranya telah mendahului dia.
Akhirnya ia tiba pada pintu gerbang sorga, disambut oleh Batara Indra. Ia dipersilahkan naik ke dalam keretanya, tetapi Yudhishthira menolaknya sebelum ia mendapat keterangan tentang Draupadi dan saudara-saudaranya, katanya : “Sekalipun dalam sorgaMu, aku tidak akan pergi apabila mereka tidak ada di sana”. Batara Indra meyakinkan Yudhishthira bahwa Draupadi dan saudara-saudaranya telah mendahului dia, dan menjelaskan kepadanya bahwa dia terbelakang sebab memikul tanggung jawab jasmaniah terakhir, serta mempersilahkan ia naik.
Ketika Yudhishthira naik bersama-sama anjingnya ke dalam kereta kayangan Batara Indra, ia ditolak. “Tidak ada tempat bagi anjing dalam sorga”, kata Batara Indra. “Kalau demikian bagiku juga tidak ada tempat di sorga. Sebab, tidak mungkin bagiku, dalam senang dan duka, melepaskan anjingku yang setia ini”, jawab Yudhishthira lalu turun kembali dengan anjingnya dari kereta kayangan itu.
Batara Indra merasa senang akan jawaban Yudhishthira itu, sebab la telah menunjukkan kasih-sayang, kesetiaan dan loyalitas kepada kawan hidupnya, seekor anjing yang selama ini menemani dia. Batara Indra mempersilahkan Yudhishthira sekali lagi dan mengijinkan anjingnya di ajak serta. Tetapi beberapa saat saja kemudian anjing itu lenyap.
Yudhishthira tiba di sorga bersama-sama Batara Indra. Di sana ia bertemu dengan Duryodhana yang duduk di atas singgasana keemasan yang sangat indah dilingkari oleh sinar terang dan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik, tetapi tidak seorang pun dari saudaranya dilihatnya di situ. Ia menolak untuk tinggal lebih lama di situ tanpa saudara-saudaranya. Dalam hatinya ia merasa heran, kenapa Duryodhana yang angkara-murka, tidak mempunyai pandangan yang jauh dan telah mengorbankan sanak serta kadang untuk memenuhi nafsu dan ambisinya ada di situ dengan penuh kebesarannya? Sedangkan Draupadi dan saudara-saudaranya yang hidup mematuhi dharma tidak ada di situ. la merasa sangat kecewa.
“Katakanlah kepadaku, di mana saudara-saudaraku! Aku ingin menyatukan diri dengan mereka, biarpun di mana mereka berada”, kata Yudhishthira. Batara Narada menghampiri Yudhishthira seraya menjawab : “Wahai anakku, di sorga tidak ada perbedaan. Tidak patut ada pikiran-pikiran yang buruk. Duryodhana yang gagah berani mencapai tingkat ini atas kekuatan dharma orang kesatria sebagai dia. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif bertakhta pada jasmani yang tidak kekal ini. Hukum sorga adalah melenyapkan segala kekacauan pikiran dan perasaan-perasaan hati yang negatif. Tinggallah engkau di sini!”
Yudhishthira menolak untuk tinggal di sorga, tanpa saudara-saudaranya. Ia ingin pergi ke tempat mereka, di mana saja mereka berada. Mendengar jawaban Yudhishthira demikian, Batara Indra menyuruh bidadari sorga mengantar dia mencari saudara-saudaranya. Perlahan-lahan badan jasmaninya meninggalkan dia. Yudhishthira kemudian memasuki tempat yang sangat gelap, licin dan membahayakan. Sebentar-sebentar kelihatan nyala yang mengerikan, bau busuk menusuk hidung dan sebentar-sebentar kedengaran suara-suara dan bunyi-bunyi yang mendirikan buluroma.
Makin jauh ia meraba-raba dalam kegelapan, makin terasa olehnya bahwa ia memasuki goa yang berlumpur busuk dalam. Bau mayat dan bangkai makin membusuk dan suara-suara makin menyeramkan kedengarannya. Tempat yang berlumpur itu penuh dengan mayat dan bangkai manusia dan binatang buas bergelimpangan. Ada tanpa kepala, ada tanpa kaki-tangan, ada dengan mata menyeringai, ada dengan isi perut keluar dan sebagainya. Yudhishthira makin jauh tenggelam dalam kancah neraka itu, sehingga akhirnya ia tidak dapat bergerak lagi. Kiri-kanannya penuh dengan bangkai dan mayat manusia yang telah membusuk. Ia tidak tahan lagi akan bau busuk dalam goa tersebut. Kepalanya pusing dan akhirnya ia bertanya : “Katakanlah dengan sebenarnya di mana Draupadi dan saudara-saudaraku berada. Berapa jauh lagi tempat mereka ? Aku tidak dapat menemukan mereka di sini”. Bidadari itu menjawab : “Kalau engkau tidak tahan lagi, engkau boleh kembali !”
Yudhishthira tidak tahan lagi dengan pemandangan dan bau yang mendirikan buluroma itu. Ia ingin kembali. Tetapi kemudian, tiba-iba terdengar olehnya suara-suara duka mengerang dan rintih kesakitan. Suara-suara yang ia kenal : “Dharmaputra, janganlah engkau kembali. Kehadiranmu di tempat ini, hati kami jadi terobat dan kedukaan kami lenyap semuanya. Janganlah engkau kembali. Marilah kita hadapi siksaan ini, sehingga akhirnya kita akan menemui kedamaian yang langgeng !”
Walaupun ia merasa hampir jatuh pingsan, masih sempat juga Yudhishthira bertanya : “Siapakah gerangan kalian yang berkata demikian dalam gelap di tempat neraka ini ? Kenapa kalian ada di sini ?”. Satu demi satu suara itu menjawab : “Raja Yang Bijaksana, Aku Karna”, jawab suara pertama, yang disusul dengan suara kedua : “Aku Bhima”, selanjutnya suara ketiga : “Aku Arjuna, saudaramu” dan berturut-turut suara yang lainnya “Draupadi”, “Aku Nakula” dan “Aku Sahadewa”.
Suara yang lain berkata : “Kami adalah putra-putra Draupadi”, yang diikuti oleh suara-suara lainnya yang bergema dalam goa gelap yang mendirikan buluroma itu. Mendengar suara-suara yang ia kenal semuanya itu, hati Yudhishthira merasa sangat kecewa. Yaah, apa yang diduga semula adalah sebaliknya ! Semua saudara, sanak-kadang dan sekutunya yang telah menjalankan dharma dalam hidup mereka, kini berada di negri yang paling di bawah, di neraka !, sedangkan orang seperti Duryodhana dan saudara-saudaranya duduk-duduk, bersenang-senang di sorga. Kepada bidadari yang mengantarkan itu, Yudhishthira menyampaikan terima kasih dan meminta ia kembali, serta membiarkan dia sendiri tinggal di tempat itu : “Katakanlah kepada Batara indra bahwa aku memilih untuk tinggal di sini bersama mereka. Aku memilih neraka dengan mereka dari pada sorga dengan Duryodhana”. Bidadari itu meninggalkan Dharmaputra lalu menyampaikan pesannya kepada Batara Indra.
Yudhishthira telah memasuki dunia maya, dunia ilusi. Tigabelas hari lamanya Yudhishthira tengelam dalam dunia maya itu. Kemudian Batara Indra dan Batara Yama muncul. Suasana gelap, bau busuk dan pemandangan yang mengerikan itu perlahan-lahan menghilang, dan sinar terang muncul dengan indahnya. Bau harum semerbak menyusupi hidung ketika kedua Batara ini muncul di hadapannya.
“Wahai orang yang bijaksana, ini adalah buat ketiga kalinya aku mencoba keteguhan jiwamu. Engkau telah memilih untuk tetap tinggal di neraka demi saudara-saudaramu, menolak untuk tinggal di sorga bersama-sama Duryodhana dan tetap setia kepada anjingmu sebagai teman hidupmu yang merupakan dharma. Adalah suatu keharusan bagi raja-raja dan mereka yang memerintah untuk tinggal di neraka sementara waktu. Engkau telah merelakan dirimu untuk tinggal menderita di neraka. Hari ini adalah hari ketigabelas untuk mengakhiri penderitaan itu. Tidak seorang pun sebenarnya ada di neraka. Tidak Krishna, tidak Karna, tidak Draupadi dan tidak yang lain-lainnya. Semua itu adalah maya, hanya ilusi. Tempat ini bukan neraka, melainkan sorga” kata Batara Yama.
Setelah mengalami cobaan-cobaan dan pengadilan yang terakhir, Yudhishthira menemui kedamaian yang abadi, terlepas dari segala pikiran dan perasaan yang mengikat manusia dengan segala sesuatu keduniawian, bersemayam bersama-sama Batara Indra, Hyang Tunggal, di sorgaloka. ***
Mahabrata
Mahabrata “Sebuah Perang Dahsyat di Medan Kurukshetra”
Dalam Kesusastraan kuna kita mengenal dua epos yang besar, yaitu Ramayana dan Mahabhrata, yang dahulunya ditulis dalam bahasa sansekerta. Pengarang-penyair epos mahabrata dikatakan Bhagawan Wyasa. Adapun etimologi kata Mahabharata itu berasal dari kata Maha yang berarti besar dan kata bharata yang berarti bangsa bharata. Pujangga Panini menyebut Mahabhrata itu sebagai “Kisah Pertempuran Besar Bangsa Bharata”. Yaitu Kaurawa dan Pandawa.
Berikut Silsilah Kaurawa dan Pandawa:








ID174094319
































