VANtheyologist

Give freedom our Opinions..

Mengapa Weda dan Kitab Hindu Lainnya dianggap Mitologi?

Memang, masih menjadi paradigma yang kuat dalam pikiran orang, bahkan orang Hindu sendiri, bahwa Weda dan Purana hanya berisi epos dan mitologi. Ambillah contoh kitab Bhagavadgita. Bhagavad-gita berisi wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura. (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lain-lain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.

Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam cerita pewayangan telah menjadi filosofi hidup bagi sebagian besar orang jawa. Karena itu, kalau kita katakan perang Mahabharata betul-betul terjadi dalam sejarah, mereka menyangsikan kebenarannya.

Pengertian Mitologi

Apa sebenarnya arti kata mitos atau mitologi? Kata mitologi, diadaptasi dari bahasa Inggris Read more »

28 February 2012 Posted by | Bali, hindu | , , , , | Leave a Comment

HINDU AGAMA MONOTEISME ATAU POLITEISME? 100% MONOTEISME.

Apakah Hindu punya banyak Tuhan?

Begitulah, sebutan bahwa Hindu bersifat politeisme, yaitu mengajarkan pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan, adalah satu lagi dari sekian banyak kesalahpahaman orang terhadap ajaran-ajaran Hindu. Kesalahpahaman itu sebenarnya muncul karena penampilan Hindu itu sendiri.

Masalahnya, kesalahpahaman tentang jumlah Tuhan orang Hindu ini berdampak sangat merugikan Hindu. Hindu selalu diposisikan sejajar dengan agama-agama suku yang memuja banyak Dewa, dan tidak mempunyai Tuhan yang Esa. Dalam kajian agama, Hindu cenderung ditempatkan bersebrangan dengan agama-agama monoteisme, yaitu agama yang mengajarkan pemujaan hanya kepada satu Tuhan.

Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umat Hindu? Weda mengajarkan Tuhan itu hanya satu, sama sekali tiada duanya, buktinya ada sloka ‘eko Narayana na dvityo asti kascit’. Juga dikatakan ‘ekam sad viprah bahuda vadanti’ artinya ‘Hanya satu Tuhan itu, tetapi orang bijaksanalah yang menyebut-Nya dengan banyak nama’. Jadi sudah jelas bukan, kami hanya memuja satu Tuhan!

Secara teori, jawaban kita mungkin sudah memadai, memuaskan dan masuk akal. Tapi apakah kenyataan di lapangan memang sesederhana itu? Apakah kutipan ayat itu telah bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam keseharian umat Hindu? Bukannya jadi paham, orang yang berpikir kritis justru akan bertambah bingung mendengarkan jawaban kita. Mengapa? Karena apa yang ditegaskan dalam sloka-sloka weda diatas, seolah bertentangan dengan kenyataannya. Dalam Hindu ada banyak sekte yang masing-masing mengklaim bahwa yang mereka puja adalah Tuhan orang Hindu yang sebenarnya. Sudah diketahui secara umum bahwa dalam Hindu ada dua sekte terbesar yaitu Waisnawa dan Siwaisme.

Read more »

24 February 2012 Posted by | Bali, hindu | , , , , , | 1 Comment

Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Hindu Bali

Bagi kita “Manusa Bali”, Pendidikan kharakter bukan hal yang baru.

(Oleh : Pande Udayana)

                        (http://image.guim.co.uk/)

                         http://3.bp.blogspot.com

Pendidikan kharakter dewasa ini merupakan aspek penting yang menjiwai Pendidikan Nasional kita. Tujuan pendidikan bukan hanya membentuk intelektual super saja namun juga membentuk akhlak dan moral yang baik. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Dalam prakteknya merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Apakah masyarakat Bali sudah memulai pendidikan kharakter itu? Tentu saja iya! Masyarakat yang ajeg Bali. Dari jaman leluhur kita sampai sekarangpun proses itu tetap berjalan. Tolak ukurnya adalah pengamalan Konsep Tri Hita Karana. Konsep yang bersumber dari ajaran Agama Hindu ini telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Bali. Semenjak anak-anak sampai menjelang ajalpun orang bali melaksanakan konsep tersebut.

(www.balitrihitakarana.com)

Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtera atau bahagia sedangkan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita  Karana artinya tiga hubungan yang sangat harmonis yang mengakibatkan umat manusia mencapai kebahagiaan/kesejahtraan. Penerapannya terdiri dari: hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya dan hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya. Di Bali konsep Tri Hita Karana ini tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu yang meliputi tiga unit yaitu : Parahyangan, yaitu berupa unit tempat suci ( Pura ) tertentu yang mencerminkan tentang konsep Ketuhanan, Pawongan, yaitu berupa unit tempat organisasi masyarakat sebagai perwujudan hubungan unsur antara sesama manusia, Palemahan, yaitu berupa unit wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur manusia dengan alam lingkungan.

http://3.bp.blogspot.com

Salah satu contoh sederhana dalam sebuah keluarga Hindu di Bali, orang tua kita selalu menghaturkan yadnya sesa setelah selesai masak. Hal ini mengandung makna hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bahwa sebelum kita mulai menikmati makanan, terlebih dahulu kita haturkan rasa syukur lewat yadnya sesa. Contoh lain, di Bali kita juga mengenal hari untuk memuliakan tanaman, hewan bahkan peralatan kerja yang dipakai setiap hari. Banjar sebagai wadah dalam mengikat budaya dan adat orang Bali juga membawa pengaruh besar bagi karakter orang Bali. Tanpa disadari, kita telah menanamkan konsep-konsep tersebut kepada anak-anak kita, yang dengan sifat keingintahuannya menyebabkan terjadinya “Transfer of Characther” melalui pengamatan dan pengalaman hidup (life skill). Dari beberapa sumber online, disebutkan kelebihan karakter dan prilaku orang Bali dibandingkan orang di daerah lain adalah sebagai berikut: berpedoman pada ajaran Tri Hita Karana, memegang teguh tradisi dan ritual keagamaan, menganggap penting aktivitas di pura dan banjar, percaya pada hukum karma, peduli kelestarian lingkungan, menjunjung tinggi kejujuran, membenci sikap serakah dalam mencari keuntungan, menjaga tradisi gotong royong dan harmoni kekeluargan, terbuka dan toleran terhadap orang yang berbeda budaya dan adaptif terhadap budaya modern dan profesionalisme.

Dengan demikian, tanpa bermaksud sombong dan tinggi hati, patutlah kita berbangga bahwa orang Bali telah dibekali pendidikan karakter oleh orang tuanya. Pendidikan orang Bali secara informal telah mencakup pendidikan karakter. Sepanjang Masyarakat Bali tetap mempertahankan tradisi, adat dan hubungan dengan leluhur yang berlandaskan ajaran agama, niscaya proses pendidikan karakter itu akan tetap berproses. Patutlah kita berbangga. …


22 August 2011 Posted by | Budaya, hindu, Pendidikan | , , , , , | 1 Comment

Pemuja Arca, ataukah penyembah berhala?

Umat Hindu Pemuja Arca, Ataukah Penyembah Berhala?

arca-3arca-4

Konsep pemujaan terhadap murti atau arca Tuhan dan berbagai penjelmaan-Nya merupakan ciri pokok cara sembahyang dalam Agama Hindu. Sebaliknya dalam ajaran agama lain cara tersebut dipandang sebagai sebuah jalan kesesatan. Umat agama lain melarang keras pemujaan terhadap objek sembahyang apapun yang diciptakan oleh manusia. Cara sembahyang umat hindu dituduh sebagai pemujaan berhala. Celakanya, pemujaan terhadap berhala inilah yang sering dijadikan sebagai alasan untuk “menyelamatkan” orang-orang Hindu.

Berbagai pertanyaan mencuat ketika melihat cara orang hindu memuja tuhan mereka. Masak sih, Tuhan seperti batu? Tidakkah berarti kita membatasi tuhan kalau tuhan kita puja dalam wujud tertentu? Apakah bukan pelecehan besar kalau kita mempersamakan Tuhan dengan benda-benda ciptaannya? Lalu muncullah berbagai pertanyaan teologis yang acapkali memojokkan. Read more »

16 March 2009 Posted by | Budaya, Topik Hangat | , , , , , , | 3 Comments

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.