VANtheyologist

Give freedom our Opinions..

Karangasem Will Be The Paradise Of Bali.. SOON

 

Mount Agung – Tracking

Sidemen Village

Lempuyang Hill – View

Tirtagangga Palace

Jambul Hill

Besakih Temple

Seraya Village – Gebug Ende

Tenganan Village

Tulamben Beach – diving

Tulamben Beach

Ujung Palace

Amed Beach

Bugbug Beach

Sibetan Village

Gumang Hill

Candidasa

Putung – Village

Telaga Waja – River

Puri Agung Karangasem – Palace

These Fotos were taken from many fotographer that uploaded in some sites. Thank You.

***

20 April 2012 Posted by | Bali | , , , , , | Leave a Comment

“Di Bali Keweh Ngalih Dagang Nasi Campur” (realitas pergeseran ekonomi lokal)

Denpasar sebagai salah satu barometer perekonomian di Bali dalam beberapa dekade ke depan akan menghadapi tantangan berat dalam persaingan ekonomi. Penduduk asli cenderung tergeser dalam persaingan oleh warga pendatang yang faktanya cenderung menguasai sektor-sektor usaha kecil. Bayangkan saja, terutama di malam hari, untuk membeli nasi campur “Bali” saja kita mesti keliling-keliling kota denpasar. Hanya 12 jam bisnis yang dikuasai warga lokal, sedangkan warga pendatang menguasai 24 jam ekonomi. Harga tanah melambung tinggi dan menyebabkan banyak penduduk asli melepas tanah waris mereka kepada warga pendatang untuk rupiah yang melimpah. Atau mereka membeli tanah ganti di pedesaan untuk memperoleh selisih harga yang mereka perlukan. Yang terjadi adalah penduduk asli akan tergeser digantikan oleh warga pendatang…

Gambar  : dipity.com

***

 

15 April 2012 Posted by | Ekonomi | , , | Leave a Comment

BALI – INDONESIA RAWAN GEMPA

STRUKTUR GEOLOGI WIL. INDONESIA

Susunan patahan dan jalur patahan geologi di Kepulauan Indonesia menunjukkan Indonesia adalah wilayah rawan bencana. Secara geologi Indonesia berada di jalur “cincin api” (ring of fire), yang merupakan jalur patahan dan gunung api yang melingkar di sepanjang Samudra Pasifik, membentang 40.000 km mulai dari Peru dan Cile (Amerika Selatan), Amerika Tengah, Kepulauan Aleutian, Kepulauan Kuril, Jepang, Filipina, Indonesia, Tonga, hingga Selandia Baru. Tercatat 81 persen gempa bumi terbesar terjadi di jalur ini. Berdasarkan Survei Geologi Amerika Serikat, rata-rata terjadi 19,4 gempa bumi berkekuatan di atas 7 skala Richter setiap tahunnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2011 mencapai angka 1.598. Jumlah tersebut memang terbilang cukup besar namun lebih kecil ketimbang 2010 dengan jumlah 2.232 kasus. Gempa bumi, tsunami dan gunung meletus masing-masing terjadi 11 kali (0,7 persen), 1 kali (0,06 persen) dan 4 kali (0,2 persen)

Wilayah Indonesia terletak di antara 3 lempeng bumi yang aktif, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Lempeng aktif artinya lempeng tersebut selalu bergerak dan saling berinteraksi. Lempeng Pasifik bergerak relatif ke Barat, lempeng Indo-Australia relatif ke utara dan lempeng Eurasia bergerak relatif ke tenggara. Ketiga lapisan ini berbeda jenis material penyusunannya sehingga berpengaruh pada sifat fisiknya. Ia antara lain mempengaruhi kecepatan gelombang air yangmerambat pada setiap lapisan.

Para pakar membagi struktur bumi menjadi tiga bagian, yaitu kerak bumi, selimut bumi dan inti bumi. Kerak bumi terbagi menjadi dua bagian, masing-masing kerak samudera (permukaan yang ada di dalam samudera) dan kerak benua atau permukaan daratan. Kerak bumi memiliki ketebalan yang variatif. Antara 0 kilometer sampai dengan 50 kilometer. Pada setiap lokasi, berbeda ketebalannya. Sementara Kerak Samudera memiliki ketebalan yang variatif tapi lebih tipis daripada kerak bumi, yaitu antara 10-12 kilometer (Geologi dan Mineralogi Tanah, 1996). Read more »

13 April 2012 Posted by | Bali, Pendidikan | , , , , , , , | Leave a Comment

Leak “api” berhasil direkam kamera HP…

Download Videonya…

Kejadian aneh munculnya Leak “sundih”  tanpa sengaja direkam dengan menggunakan kamera HP oleh I Ketut Gumbreg, warga masyarakat desa Abiansoan, Karangasem Bali tepat seminggu sebelum Hari Raya Nyepi pada bulan Maret 2012.  Api muncul tiba-tiba tengah malam ketika gumbreg berada di sungai belakang rumahnya.

“Malam itu tiang sedang buang air di sungai yang terletak di belakang rumah, selang beberapa saat kemudian terlihat bola api yang terus bergerak-gerak, kemudian tiang rekam dengan HP yang tiang bawa” terang Gumbreg.  (“tiang” = saya)

Ketut Gumbreg tinggal di Desa Abiansoan, berjarak sekitar lima kilometer arah barat dari kota Karangasem. Cuaca cukup sejuk, penduduknya tinggal mengelompok, sehingga jarak antar rumah warga juga cukup jauh dan terpisahkan oleh hamparan kebun dan sawah. Namun Ketut Gumbreg tinggal menyendiri jauh dari pemukiman warga. Ia tinggal di kebun yang terletak lebih rendah dari jalan raya dan dengan sungai dibelakang rumahnya. Hampir setiap malam jika perutnya sakit, Ketut Gumbreg akan pergi ke sungai tanpa memakai penerangan apapun.  Ia sering melihat fenomena-fenomena penampakan Leak tersebut.

“Tiang tidak takut” , “Tiang sering melihat penampakan api di sekitar sungai, tetapi tumben tiang sengaja membawa HP untuk mencoba merekamnya” , “Agak sulit karena apinya bergerak terus, durasinya singkat, karena batuk tiang keburu keluar, akhirnya api-nya menghilang” imbuh Gumbreg menegaskan.

“Leak” adalah perwujudan dari orang yang menjalankan ilmu Leak, merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Secara awam Leak diibaratkan seperti sosok yg menakutkan dan jahat, membuat penyakit, membuat celaka, membuat onar dan sebagainya. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar. Sifat yg menonjol dari penekun Leak adalah “rahasia”, kerahasian inilah menjadi ciri khas dari penekun Leak.

http://www.4shared.com/embed/1299545176/9728a921

Sekian…

25 March 2012 Posted by | Bali, Budaya | , , | 3 Comments

PNS Krama Bali sebagai warga adat juga “Ngayah”…

Perihal “Ngayah” yang selama ini menjadi topik hangat dalam sebuah media cetak di Bali cenderung memposisikan bahwa PNS / Krama Bali yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS adalah jauh dari kegiatan – kegiatan sosial masyarakat Bali bahkan seakan-akan bukan merupakan warga adat di Bali.  Gaji yang diterima PNS dijadikan pembanding dalam memandang persoalan-persoalan yang dihadapi prejuru-prejuru adat dalam melaksanakan kegiatan “Ngayah”.

Sebuah tulisan dengan judul “kontroversi ngayah dan mebayah” dalam sebuah harian cetak di Bali secara explisit menjelaskan bahwa “Ngayah” adalah swadarma prajuru adat dan krama yang bukan PNS saja. Sedangkan “Mebayah” selalu dalam konteks profesi sebagai PNS.  Seakan – akan krama Bali profesi PNS bukan merupakan warga adat yang tidak ikut-ikutan dalam kegiatan “meayah-ayahan”. Adalah suatu kekeliruan yang sangat fatal apabila hal-hal tersebut tidak memperoleh pengakuan dengan baik yang ujung-ujungnya tentu menimbulkan keprihatinan bagi kita orang Bali dalam kerangka persatuan dan kesatuan ajeg Bali.

Semua krama Bali sejatinya adalah warga adat di masing-masing daerahnya, tanpa kecuali PNS ataupun swasta. Hanya saja karena profesi dan diikat oleh aturan menyebabkan porsi “Ngayah”  sebagai warga adat lebih sedikit dibandingkan prajuru adat yang bukan pekerja dari suatu instansi pemerintahan ataupun swasta. Namun tidak serta merta PNS terlepas dari kewajiban-kewajiban me “adat” ataupun “Ngayah”.

Tuntutan insentif bagi pelaku “Ngayah” tentunya sangat manusiawi diwacanakan karena memang beban dan tanggung jawab yang besar berada di pundak mereka dalam menjaga Bali. Jangan sampai “Ngayah” dengan “Layah” akhirnya “Benyah”. Namun beragam komentar atau tanggapan-tanggapan yang disuguhkan mengenai “Ngayah” cenderung mengaburkan makna sebenarnya persaudaraan dalam kerangka heterogenitas profesi dalam sebuah desa adat. Tentunya sangat dimungkinkan suatu saat timbul kesenjangan pengakuan porsi partisipasi antar krama adat yang jika tidak disadari dengan ikhlas cenderung menjadi benih-benih retaknya persatuan dan kesatuan krama Bali secara umum.

7 March 2012 Posted by | Bali | , , , , | Leave a Comment

Gubernur Bali dan Bali Post, peturu Krama Bali, mangde adil ngiring je sareng-sareng pade ngidih pelih..

Terlepas dari siapa yang benar ataupun bersalah, perseteruan Gubernur Bali, Mangku Pastika dengan Balipost (Satria Naradha) adalah ibarat gambaran kian rapuhnya kerukunan orang Bali. Apalagi jika konflik itu terjadi pada para pemimpin Bali. Apa jadinya “gumi Bali” kedepan??

Sebulan terakhir ini, krama Bali yang entah seluruhnya faham atau tidak, sering mendengar dari berbagai media, perihal perseteruan yang tidak kunjung menemui jalan damai dan adil. Jika dilihat dari kacamata krama Bali yang awam, tentu akan selalu muncul pertanyaan “Ngudiang je peturu Bali pade mesiat?” atau “Ngudiang kone Pak Gubernur terus pelihange di koranne?”.

Pemberitaan buruk yang bertubi-tubi akan membangun pengarahan opini yang provokatif,  mirip dengan “Character Assassination”, walaupun dengan dalih pers untuk meng-ajegkan Bali dan sesuai dengan UU Pers. Akan jauh lebih berimbang dan bermakna jika informasi yang disuguhkan mengenai hal-hal semacam korupsi yang merugikan krama Bali, kolusi, ataupun informasi lain yang dapat mencerahkan, memupuk persaudaraan dan persatuan tanpa mencederai rasa keagaaman. Sehingga kita bisa bangga jadi Orang Bali!!

Pers adalah pengawal rasa keadilan bagi masyarakat. Pemerintahan yang adil di negara manapun di dunia tercermin dari kebebasan pers-nya. Tentu saja kebebasan pers yang bertanggung jawab dan sesuai kode etik pers. Pers memiliki kekuatan besar dalam membangun opini publik, terdepan dalam mengamankan kebijakan untuk publik, pahlawan bagi kaum marhaen. Jika pers telah dinodai oleh kepentingan politik atau ikut  jadi tikus politik, maka menjadi tidak murni lagi perjuangan pers tersebut.

Jika dilihat dari makalah yang dibuat oleh I Gusti Putu Artha, yang berjudul “Gubernur Bali VS Bali Post : Perspektif Hukum dan Etika Pers” (khususnya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers) dan etika pers (khususnya Kode Etik Jurnalistik), secara implisit dimaksudkan bahwa sikap kritis pers (Balipost) kian terkikis. Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 1999 menyatakan: Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Dalam konteks masalah ini, Bali Post kurang mampu memahami logika hukum dan adat di Bali, bahwa desa adat tidak dapat dibubarkan oleh pihak manapun. Maka, menjadi amat ganjil pemberitaan pembubaran desa adat namun tidak berdasarkan fakta. Bali Post semestinya dengan cerdas  berpikir sebelum berita itu diturunkan, apa benar ada gubernur yang berani membubarkan desa adat? Apa latar belakangnya? Apa alasan-alasannya?

Begitu juga dalam perspektif etika pers dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalistik PWI, menurut I G.P.Artha, seharusnya berita yang menonjolkan pembubaran desa pakraman tidak patut disiarkan karena punya potensi menyinggung perasaan penganut agama Hindu di Bali. Pasalnya, desa adat di Bali adalah komunitas sosial yang menjadi wadah pelaksanaan tradisi dan agama Hindu. Lebih-lebih realitas seorang gubernur mengeluarkan statemen (pun jika benar) amat patut dipertimbangkan untuk tidak dimuat.

Berita Bali Post dimaksud dikategorikan berita yang menyesatkan dan memutarbalikkan fakta, karena persepsi publik yang terbentuk dengan membaca judul berita seolah-olah gubernur sungguh-sungguh hendak membubarkan semua desa adat. Padahal faktanya, secara teks dan konteks, adalah sikap seorang pemimpin masyarakat yang sedang menegur masyarakatnya untuk tidak terus konflik dan minta agar eksistensi dua desa adat dievaluasi. Terkesan berita ini juga mengedepankan sensasi berlebihan dengan menonjolkan judul semacam itu. Padahal dalam tubuh berita tidak ada penjelasan satu kalimatpun apa, bagaimana dan mengapa desa adat harus dibubarkan. Lagipula faktanya adalah, wartawan Bali Post tidak pernah meliput berita dimaksud dan meminta bahan dari pihak lain.

 Solusi Damai

Upaya mediasi telah dilakukan namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Kegagalan tersebut disebabkan masing-masing pihak tetap bersikukuh pada pendiriannya masing-masing. Disamping itu, proses mediasi tersebut gagal karena keinginan Gubernur Mangku Pastika sebagai penggugat tidak menemukan perdamaian yang berkeadilan dari pihak Bali Post. Namun Gubernur Bali Mangku Pastika tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi perdamaian tersebut.

Jika dikutip solusi damai dari makalah IGP Artha sebagai referensi, dan jika kita sadar “peturu nak Bali”  maka :

Pertama, Bali Post hendaknya melaksanakan amanat pasal 11 Kode Etik Jurnalistik dengan mencabut secara sadar berita tersebut dan meminta maaf kepada publik bahwa wartawannya tidak pernah meliput kegiatan itu.

Kedua, Mangku Pastika menggunakan hak jawab terhadap berita harian Bali Post Pihak Bali Post agar memberikan kesempatan pemuatan hak jawab di halaman yang sama dengan porsi halaman yang sama sebagaimana diatur oleh Surat Edaran Dewan Pers.

Ketiga, Mangku Pastika dengan berbesar hati mencabut seluruh gugatan  perdata dan mengurungkan melakukan gugatan pidana karena berpotensi membangkrutkan Bali Post dengan nilai gugatan sebesar Rp 150 milyar itu.

Selanjutnya kedua belah pihak melakukan perdamaian dan beritikad baik untuk menjadikan kasus ini pembelajaran politik dan hukum. Bangunlah Bali Dengan Damai…

4 March 2012 Posted by | Topik Hangat | , , , , , | Leave a Comment

Mengapa Weda dan Kitab Hindu Lainnya dianggap Mitologi?

Memang, masih menjadi paradigma yang kuat dalam pikiran orang, bahkan orang Hindu sendiri, bahwa Weda dan Purana hanya berisi epos dan mitologi. Ambillah contoh kitab Bhagavadgita. Bhagavad-gita berisi wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura. (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lain-lain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.

Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam cerita pewayangan telah menjadi filosofi hidup bagi sebagian besar orang jawa. Karena itu, kalau kita katakan perang Mahabharata betul-betul terjadi dalam sejarah, mereka menyangsikan kebenarannya.

Pengertian Mitologi

Apa sebenarnya arti kata mitos atau mitologi? Kata mitologi, diadaptasi dari bahasa Inggris Read more »

28 February 2012 Posted by | Bali, hindu | , , , , | Leave a Comment

Mahasemaya Warga Pande : Karya Ring Pura Penataran Pande Bujaga 2013

Sukseskan Karya Mamungkah, Mapedagingan, Ngenteg Linggih Lan Mapedudusan Agung Pura Penataran Pande Bujaga, Nongan, Karangasem.

(Jln Raya Besakih, Karangasem)

 

6 February 2012 Posted by | Bali, Budaya, hindu, Mahasemaya Warga Pande | , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Hindu Bali

Bagi kita “Manusa Bali”, Pendidikan kharakter bukan hal yang baru.

(Oleh : Pande Udayana)

                        (http://image.guim.co.uk/)

                         http://3.bp.blogspot.com

Pendidikan kharakter dewasa ini merupakan aspek penting yang menjiwai Pendidikan Nasional kita. Tujuan pendidikan bukan hanya membentuk intelektual super saja namun juga membentuk akhlak dan moral yang baik. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Dalam prakteknya merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Apakah masyarakat Bali sudah memulai pendidikan kharakter itu? Tentu saja iya! Masyarakat yang ajeg Bali. Dari jaman leluhur kita sampai sekarangpun proses itu tetap berjalan. Tolak ukurnya adalah pengamalan Konsep Tri Hita Karana. Konsep yang bersumber dari ajaran Agama Hindu ini telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Bali. Semenjak anak-anak sampai menjelang ajalpun orang bali melaksanakan konsep tersebut.

(www.balitrihitakarana.com)

Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtera atau bahagia sedangkan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita  Karana artinya tiga hubungan yang sangat harmonis yang mengakibatkan umat manusia mencapai kebahagiaan/kesejahtraan. Penerapannya terdiri dari: hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya dan hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya. Di Bali konsep Tri Hita Karana ini tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu yang meliputi tiga unit yaitu : Parahyangan, yaitu berupa unit tempat suci ( Pura ) tertentu yang mencerminkan tentang konsep Ketuhanan, Pawongan, yaitu berupa unit tempat organisasi masyarakat sebagai perwujudan hubungan unsur antara sesama manusia, Palemahan, yaitu berupa unit wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur manusia dengan alam lingkungan.

http://3.bp.blogspot.com

Salah satu contoh sederhana dalam sebuah keluarga Hindu di Bali, orang tua kita selalu menghaturkan yadnya sesa setelah selesai masak. Hal ini mengandung makna hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bahwa sebelum kita mulai menikmati makanan, terlebih dahulu kita haturkan rasa syukur lewat yadnya sesa. Contoh lain, di Bali kita juga mengenal hari untuk memuliakan tanaman, hewan bahkan peralatan kerja yang dipakai setiap hari. Banjar sebagai wadah dalam mengikat budaya dan adat orang Bali juga membawa pengaruh besar bagi karakter orang Bali. Tanpa disadari, kita telah menanamkan konsep-konsep tersebut kepada anak-anak kita, yang dengan sifat keingintahuannya menyebabkan terjadinya “Transfer of Characther” melalui pengamatan dan pengalaman hidup (life skill). Dari beberapa sumber online, disebutkan kelebihan karakter dan prilaku orang Bali dibandingkan orang di daerah lain adalah sebagai berikut: berpedoman pada ajaran Tri Hita Karana, memegang teguh tradisi dan ritual keagamaan, menganggap penting aktivitas di pura dan banjar, percaya pada hukum karma, peduli kelestarian lingkungan, menjunjung tinggi kejujuran, membenci sikap serakah dalam mencari keuntungan, menjaga tradisi gotong royong dan harmoni kekeluargan, terbuka dan toleran terhadap orang yang berbeda budaya dan adaptif terhadap budaya modern dan profesionalisme.

Dengan demikian, tanpa bermaksud sombong dan tinggi hati, patutlah kita berbangga bahwa orang Bali telah dibekali pendidikan karakter oleh orang tuanya. Pendidikan orang Bali secara informal telah mencakup pendidikan karakter. Sepanjang Masyarakat Bali tetap mempertahankan tradisi, adat dan hubungan dengan leluhur yang berlandaskan ajaran agama, niscaya proses pendidikan karakter itu akan tetap berproses. Patutlah kita berbangga. …


22 August 2011 Posted by | Budaya, hindu, Pendidikan | , , , , , | 1 Comment

Wabah penyakit Legionella, apa ada di Bali?

Penyakit Legionella (Pontiac Fever).

Sumber : http://www.republika.co.id

Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.

Dalam bahasa Inggris penyakit ini disebut Legionaire Disease dan masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Bakteri Legionella biasanya berkembang di air, khususnya pada lingkungan yang hangat seperti pada bak mandi dengan air panas, tangki berisi air panas, sistem pipa dan sistem pendingin udara.

Dalam situs kalbe.co.id, legionellosis adalah suatu penyakit infeksi bakteri akut yang bersifat new emerging diseases. Secara keseluruhan baru dikenal 20 spesies dan penyebab Legionellosis adalah Legionella pneumophila.

Legionellosis terjadi di Philadelphia Amerika Serikat pada tahun 1976 dengan jumlah kasus 182 dan kematian 29 orang. Di Indonesia kasus ini ada di sejumlah tempat antara lain di Bali (1996), di Karawaci Tangerang (1999), dan di sejumlah kota lainnya. Dari hasil survai tahun 2001 atas petugas air menara sistem pendingin di hotel-hotel di Jakarta dan Denpasar ditemukan hampir 90 persen  pernah terpajan bakteri Legionella.

Bakteri Legionella biasa hidup di air laut, air tawar, sungai, lumpur, danau, mata air panas, genangan air bersih, air menara sistem pendingin di gedung bertingkat, hotel, spa, pemandian air panas, air tampungan sistem air panas di rumah-rumah, air mancur buatan yang tidak terawat baik, endapan, lendir, ganggang, jamur, karat, kerak, debu, kotoran, atau benda asing lainnya. Bakteri ini juga terdapat di peralatan rumah sakit seperti alat bantu pernafasan. Read more »

21 January 2011 Posted by | Topik Hangat | , , , , , | 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.