VANtheyologist

Give freedom our Opinions..

HINDU AGAMA MONOTEISME ATAU POLITEISME? 100% MONOTEISME.


Apakah Hindu punya banyak Tuhan?

Begitulah, sebutan bahwa Hindu bersifat politeisme, yaitu mengajarkan pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan, adalah satu lagi dari sekian banyak kesalahpahaman orang terhadap ajaran-ajaran Hindu. Kesalahpahaman itu sebenarnya muncul karena penampilan Hindu itu sendiri.

Masalahnya, kesalahpahaman tentang jumlah Tuhan orang Hindu ini berdampak sangat merugikan Hindu. Hindu selalu diposisikan sejajar dengan agama-agama suku yang memuja banyak Dewa, dan tidak mempunyai Tuhan yang Esa. Dalam kajian agama, Hindu cenderung ditempatkan bersebrangan dengan agama-agama monoteisme, yaitu agama yang mengajarkan pemujaan hanya kepada satu Tuhan.

Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umat Hindu? Weda mengajarkan Tuhan itu hanya satu, sama sekali tiada duanya, buktinya ada sloka ‘eko Narayana na dvityo asti kascit’. Juga dikatakan ‘ekam sad viprah bahuda vadanti’ artinya ‘Hanya satu Tuhan itu, tetapi orang bijaksanalah yang menyebut-Nya dengan banyak nama’. Jadi sudah jelas bukan, kami hanya memuja satu Tuhan!

Secara teori, jawaban kita mungkin sudah memadai, memuaskan dan masuk akal. Tapi apakah kenyataan di lapangan memang sesederhana itu? Apakah kutipan ayat itu telah bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam keseharian umat Hindu? Bukannya jadi paham, orang yang berpikir kritis justru akan bertambah bingung mendengarkan jawaban kita. Mengapa? Karena apa yang ditegaskan dalam sloka-sloka weda diatas, seolah bertentangan dengan kenyataannya. Dalam Hindu ada banyak sekte yang masing-masing mengklaim bahwa yang mereka puja adalah Tuhan orang Hindu yang sebenarnya. Sudah diketahui secara umum bahwa dalam Hindu ada dua sekte terbesar yaitu Waisnawa dan Siwaisme.

Hindu di Indonesia pun kadang membuat kita bingung. Para sarjana Hindu menyimpulkan bahwa ajaran Hindu yang dominan di Indonesia adalah ajaran Siwa Siddhanta. Artinya, Siwa dianggap sebagai Tuhan yang Maha Esa. Hal ini terbukti dengan banyak diketemukannya Siwa Linggam dimana-mana. Tapi anehnya, bukannya Siwa, melainkan Hyang Widhi Wasa yang menjadi Tuhan ‘resmi’ bagi umat Hindu Indonesia.

Dan kebingungan akan bertambah, karena selain Hyang Widhi Wasa, ada konsep Brahman yang dianggap sebagai Tuhan tertinggi, sumber asli Tri Murti. Tanpa ada penjelasan hubungan hirarkis yang tegas dan gamblang antara Brahman, Brahma, Wisnu, Siwa, Khrisna, kesepuluh Awatara, dan dewa dewa lainnya, tidak salah kalau Hindu dianggap punya banyak Tuhan.

Tugas kita sebagai orang Hindu untuk melakukan introspeksi dan klarifikasi terhadap kesalah pahaman ini. Suka tidak suka, kita harus mendalami dan mengkaji kitab-kitab Weda. Memahami secara benar konsep ketuhanan dalam Weda.

Orang Hindu beruntung, karena Weda mengajarkan bahwa Tuhan Maha Tidak Terbatas. Karena itu, Tuhan juga punya nama dan sebutan yang jumlahnya tidak terbatas. Seperti halnya matahari yang juga disebut mentari, srengenge, surya, sun, bhaskara dan lain-lain, begitu juga Tuhan punya banyak gelar dan sebutan. Justru kita yang membatasi Tuhan, kalau kita katakana bahwa Tuhan hanya punya satu nama!

Menurut Weda, Tuhan memang tidak punya nama, tetapi manusia memberi nama Tuhan menurut sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Begitu pula dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, misalnya, nama Tuhan yang paling menonjol adalah Allah, tiada Tuhan selain Allah. Tetapi dalam Al-Qur’an yang sama juga dinyatakan bahwa Allah memiliki 99 nama lainnya. Nama-nama itu diberikan menurut sifat-sifat yang dimiliki Allah, yang disebut Asmaul Husnah. Misalnya, nama lain Allah adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Alim (Maha Tahu), Al-Kudus (Maha Suci), Al-Akbar (Maha Besar), dan lain-lain. (Jabir, 1997).

Dalam kitab Weda, kita dapat temukan seribu nama Sri Wishnu, berdasarkan sifat dan kehebatan-Nya. Dalam Bhagavad-gita, misalnya, Khrisna disebut dengan 27 nama dan gelar yang berbeda. Misalnya, Khrisna disebut Hari (Beliau yang menghilangkan segala penderitaan), Anantarupa (Yang memiliki perwujudan yang jumlahnya tak terhingga), Rama (Sumber kebahagiaan), Govinda (penyayang dan pelindung sapi), Hrisikesa (penguasa segala Indria) dan sebagainya. Ini sekedar contoh, betapa Tuhan Yang Esa itu punya banyak nama.

Jumlah nama Tuhan yang tak terbatas dalam Weda inilah yang kerap membuat orang salah paham, seolah Hindu punya banyak Tuhan. Padahal sebenarnya banyaknya nama ini justru menunjukkan bahwa Weda memiliki informasi yang lengkap dan rinci tentang apa dan siapa Tuhan Sesungguhnya.

Tuhan Versus Dewa.

Salah pengertian lainnya yang membuat Hindu dikira memuja banyak Tuhan adalah adanya anggapan bahwa Dewa sama dengan Tuhan. Orang beranggapan bahwa memuja salah satu Dewa berarti memuja Tuhan, karena tidak ada bedanya Tuhan dengan Dewa. Sayangnya, banyak orang Hindu juga masih bingung apa bedanya Tuhan dengan Dewa. Penyebab mereka mempersamakan Tuhan dengan Dewa antara lain adalah dalam beberapa sloka dalam kitab Catur Weda, yang menyatakan bahwa Agni, Indra, Waruna, Soma, dan lain-lain seolah-olah adalah Tuhan yang satu. Artinya, Tuhan Yang Satu itu disebut dengan banyak nama, yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra, Indra, Agni, Soma, Waruna dan lain sebagainya. Yang tampak secara nyata adalah pemujaan kepada berbagai Dewa yang seolah semuanya setara. Dari sinilah anggapan bahwa Hindu menyembah dan memuja 33 juta Dewa. Lalu, apakah itu berarti Hindu memang Politeisme?

Tidak. Hindu tidak mengajarkan politeisme. Dalam Bhagavad-gita 9.25 disebutkan secara tegas bahwa Tuhan berbeda dari Dewa. Sri Khrisna menjelaskan hasil yang diperoleh dari berbagai jenis pemujaan yang dilakukan manusia. Pemuja Dewa hanya sampai kepada Dewa, sedangkan pemuja Tuhan akan mencapai kerajaan Tuhan. Kalau memang Dewa sama dengan Tuhan seperti anggapan sementara orang, mengapa Khrisna membedakan hasil pemujaan kepada dewa dengan hasil pemujaan kepada Tuhan.

Siapa sesungguhnya Para Dewa?

Kalau menggunakan analogi sistem pemerintahan, Tuhan adalah Raja atau Presiden seluruh alam semesta ini. Beliau adalah pengendali dan penguasa tertinggi. Namun dalam menjalankan ‘roda pemerintahan’, Tuhan menciptakan mahluk-mahluk yang diberi kemampuan ilahi untuk mengepalai ‘departemen’ tertentu. Itulah para Dewa. Jelaslah Dewa itu bukan Tuhan. Orang yang ingin menjadi cerdas, memuja Dewi Saraswati atau Dewa Ganesha. Orang yang ingin berbadan jasmani sehat memuja Dewa Surya, mereka yang ingin kaya menyembah Dewi Laksmi, Siwa, dan sebagainya. Jadi pemujaan kepada Dewa bukan berarti menyembah banyak Tuhan. Tuhan tetaplah satu, tidak ada duanya.

24 February 2012 - Posted by | Bali, hindu | , , , , ,

1 Comment »

  1. Kalau benar Hindu adalah monoteisme namun mengapa Pura yg dibangun diasosiasikan hanya untuk satu Dewa misalnya Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Siwa, sehingga kalau Tuhan Hindu benar hanya satu ya bangun saja satu Pura, tidak perlu membangun banyak Pura dalam suatu wilayah Desa.

    Comment by Arief | 7 April 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.