VANtheyologist

Give freedom our Opinions..

HINDU AGAMA MONOTEISME ATAU POLITEISME? 100% MONOTEISME.


Apakah Hindu punya banyak Tuhan?

Begitulah, sebutan bahwa Hindu bersifat politeisme, yaitu mengajarkan pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan, adalah satu lagi dari sekian banyak kesalahpahaman orang terhadap ajaran-ajaran Hindu. Kesalahpahaman itu sebenarnya muncul karena penampilan Hindu itu sendiri.

Masalahnya, kesalahpahaman tentang jumlah Tuhan orang Hindu ini berdampak sangat merugikan Hindu. Hindu selalu diposisikan sejajar dengan agama-agama suku yang memuja banyak Dewa, dan tidak mempunyai Tuhan yang Esa. Dalam kajian agama, Hindu cenderung ditempatkan bersebrangan dengan agama-agama monoteisme, yaitu agama yang mengajarkan pemujaan hanya kepada satu Tuhan.

Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umat Hindu? Weda mengajarkan Tuhan itu hanya satu, sama sekali tiada duanya, buktinya ada sloka ‘eko Narayana na dvityo asti kascit’. Juga dikatakan ‘ekam sad viprah bahuda vadanti’ artinya ‘Hanya satu Tuhan itu, tetapi orang bijaksanalah yang menyebut-Nya dengan banyak nama’. Jadi sudah jelas bukan, kami hanya memuja satu Tuhan!

Secara teori, jawaban kita mungkin sudah memadai, memuaskan dan masuk akal. Tapi apakah kenyataan di lapangan memang sesederhana itu? Apakah kutipan ayat itu telah bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam keseharian umat Hindu? Bukannya jadi paham, orang yang berpikir kritis justru akan bertambah bingung mendengarkan jawaban kita. Mengapa? Karena apa yang ditegaskan dalam sloka-sloka weda diatas, seolah bertentangan dengan kenyataannya. Dalam Hindu ada banyak sekte yang masing-masing mengklaim bahwa yang mereka puja adalah Tuhan orang Hindu yang sebenarnya. Sudah diketahui secara umum bahwa dalam Hindu ada dua sekte terbesar yaitu Waisnawa dan Siwaisme.

Hindu di Indonesia pun kadang membuat kita bingung. Para sarjana Hindu menyimpulkan bahwa ajaran Hindu yang dominan di Indonesia adalah ajaran Siwa Siddhanta. Artinya, Siwa dianggap sebagai Tuhan yang Maha Esa. Hal ini terbukti dengan banyak diketemukannya Siwa Linggam dimana-mana. Tapi anehnya, bukannya Siwa, melainkan Hyang Widhi Wasa yang menjadi Tuhan ‘resmi’ bagi umat Hindu Indonesia.

Dan kebingungan akan bertambah, karena selain Hyang Widhi Wasa, ada konsep Brahman yang dianggap sebagai Tuhan tertinggi, sumber asli Tri Murti. Tanpa ada penjelasan hubungan hirarkis yang tegas dan gamblang antara Brahman, Brahma, Wisnu, Siwa, Khrisna, kesepuluh Awatara, dan dewa dewa lainnya, tidak salah kalau Hindu dianggap punya banyak Tuhan.

Tugas kita sebagai orang Hindu untuk melakukan introspeksi dan klarifikasi terhadap kesalah pahaman ini. Suka tidak suka, kita harus mendalami dan mengkaji kitab-kitab Weda. Memahami secara benar konsep ketuhanan dalam Weda.

Orang Hindu beruntung, karena Weda mengajarkan bahwa Tuhan Maha Tidak Terbatas. Karena itu, Tuhan juga punya nama dan sebutan yang jumlahnya tidak terbatas. Seperti halnya matahari yang juga disebut mentari, srengenge, surya, sun, bhaskara dan lain-lain, begitu juga Tuhan punya banyak gelar dan sebutan. Justru kita yang membatasi Tuhan, kalau kita katakana bahwa Tuhan hanya punya satu nama!

Menurut Weda, Tuhan memang tidak punya nama, tetapi manusia memberi nama Tuhan menurut sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Begitu pula dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, misalnya, nama Tuhan yang paling menonjol adalah Allah, tiada Tuhan selain Allah. Tetapi dalam Al-Qur’an yang sama juga dinyatakan bahwa Allah memiliki 99 nama lainnya. Nama-nama itu diberikan menurut sifat-sifat yang dimiliki Allah, yang disebut Asmaul Husnah. Misalnya, nama lain Allah adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Alim (Maha Tahu), Al-Kudus (Maha Suci), Al-Akbar (Maha Besar), dan lain-lain. (Jabir, 1997).

Dalam kitab Weda, kita dapat temukan seribu nama Sri Wishnu, berdasarkan sifat dan kehebatan-Nya. Dalam Bhagavad-gita, misalnya, Khrisna disebut dengan 27 nama dan gelar yang berbeda. Misalnya, Khrisna disebut Hari (Beliau yang menghilangkan segala penderitaan), Anantarupa (Yang memiliki perwujudan yang jumlahnya tak terhingga), Rama (Sumber kebahagiaan), Govinda (penyayang dan pelindung sapi), Hrisikesa (penguasa segala Indria) dan sebagainya. Ini sekedar contoh, betapa Tuhan Yang Esa itu punya banyak nama.

Jumlah nama Tuhan yang tak terbatas dalam Weda inilah yang kerap membuat orang salah paham, seolah Hindu punya banyak Tuhan. Padahal sebenarnya banyaknya nama ini justru menunjukkan bahwa Weda memiliki informasi yang lengkap dan rinci tentang apa dan siapa Tuhan Sesungguhnya.

Tuhan Versus Dewa.

Salah pengertian lainnya yang membuat Hindu dikira memuja banyak Tuhan adalah adanya anggapan bahwa Dewa sama dengan Tuhan. Orang beranggapan bahwa memuja salah satu Dewa berarti memuja Tuhan, karena tidak ada bedanya Tuhan dengan Dewa. Sayangnya, banyak orang Hindu juga masih bingung apa bedanya Tuhan dengan Dewa. Penyebab mereka mempersamakan Tuhan dengan Dewa antara lain adalah dalam beberapa sloka dalam kitab Catur Weda, yang menyatakan bahwa Agni, Indra, Waruna, Soma, dan lain-lain seolah-olah adalah Tuhan yang satu. Artinya, Tuhan Yang Satu itu disebut dengan banyak nama, yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra, Indra, Agni, Soma, Waruna dan lain sebagainya. Yang tampak secara nyata adalah pemujaan kepada berbagai Dewa yang seolah semuanya setara. Dari sinilah anggapan bahwa Hindu menyembah dan memuja 33 juta Dewa. Lalu, apakah itu berarti Hindu memang Politeisme?

Tidak. Hindu tidak mengajarkan politeisme. Dalam Bhagavad-gita 9.25 disebutkan secara tegas bahwa Tuhan berbeda dari Dewa. Sri Khrisna menjelaskan hasil yang diperoleh dari berbagai jenis pemujaan yang dilakukan manusia. Pemuja Dewa hanya sampai kepada Dewa, sedangkan pemuja Tuhan akan mencapai kerajaan Tuhan. Kalau memang Dewa sama dengan Tuhan seperti anggapan sementara orang, mengapa Khrisna membedakan hasil pemujaan kepada dewa dengan hasil pemujaan kepada Tuhan.

Siapa sesungguhnya Para Dewa?

Kalau menggunakan analogi sistem pemerintahan, Tuhan adalah Raja atau Presiden seluruh alam semesta ini. Beliau adalah pengendali dan penguasa tertinggi. Namun dalam menjalankan ‘roda pemerintahan’, Tuhan menciptakan mahluk-mahluk yang diberi kemampuan ilahi untuk mengepalai ‘departemen’ tertentu. Itulah para Dewa. Jelaslah Dewa itu bukan Tuhan. Orang yang ingin menjadi cerdas, memuja Dewi Saraswati atau Dewa Ganesha. Orang yang ingin berbadan jasmani sehat memuja Dewa Surya, mereka yang ingin kaya menyembah Dewi Laksmi, Siwa, dan sebagainya. Jadi pemujaan kepada Dewa bukan berarti menyembah banyak Tuhan. Tuhan tetaplah satu, tidak ada duanya.

24 February 2012 - Posted by | Bali, hindu | , , , , ,

52 Comments »

  1. Kalau benar Hindu adalah monoteisme namun mengapa Pura yg dibangun diasosiasikan hanya untuk satu Dewa misalnya Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Siwa, sehingga kalau Tuhan Hindu benar hanya satu ya bangun saja satu Pura, tidak perlu membangun banyak Pura dalam suatu wilayah Desa.

    Comment by Arief | 7 April 2012 | Reply

    • ada pura khusus untuk dewa… klo untuk tuhan beda lagi…

      Comment by Ayu | 21 January 2013 | Reply

      • perlu diperhatikan bahwa yang dipuja misalnya di pura dalem adalah dewa siwa, itu adalah manifestasi tuhan.sehingga kita juga memuja tuhan. tuhan itu satu tetapi beliau disebut dengan banyak nama sesuai dengan manifestasinya. jadi yang ditekankan disini adalah konsep keseimbangan.bukan efisiensi.kalo efisiensi sama dengan takut beragama.

        Comment by ganteng | 5 November 2013 | Reply

        • [Personifikasi Tuhan]

          Apakah setiap 1 nama/sifat dari Tuhan harus di sandingkan dengan sebuah perwujudan visual?

          Namun jika “Harus”, maka ayat apa yg akan disajikan untuk menjelaskannya?

          Adakah ayat yg tegas menyatakan :

          Misal..

          “Demi keagunganKu, nama dan sifatKu telah Aku rupa-wujudkan kepadamu (manusia) untuk kamu sekalian ketahui dan agar kamu ibadahi untukKu. Sungguh inilah ketetapanKu, ini lah jalan yang lurus” ??

          Atau sajikan 1 ayat yang semisalnya.

          Adakah??

          Jika tidak ada?
          Maka dari manakah sumber yang memerintahkan manusia menyembah Tuhan melalui para dewa? Lalu siapa yang mengajarkannya?

          Jika “misal” ada yang mengajarkannya, maka orang tsb telah bertentangan dengan kitabnya sendiri. Lantas mengapa orang itu mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan kitabnya sendiri?

          Mengapa ajaran yang bertentangan dengan kitab-kitab nya sendiri itu tetap diimani dan diikuti?

          Bagaimana bisa untuk dapat menjelaskan kebingungan tersebut? Jika nyatanya tidak ada 1 ayat untuk menjelaskan hal yg demikian.

          Comment by yudhistiyo | 5 November 2013 | Reply

          • Ada slokanya… pada bhagawad gita….. intinya begini “para dewa bertugas untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan siapapun yang menikmati hasil itu tanpa mempersembahkannya kembali (kepada Tuhan, lalu kemudian kepada deva untuk ucapan terima kasih), maka ia adalah pencuri”. Logikanya begini, kalau ada orang yang menanam pohon rambutan (walaupun itu ditujukan untuk kepentingan umum), setidaknya kita tetap meminta, dan memberi ucapan terima kasih kepada Tuhan dan juga kepada orang yang telah menanamnya jika kita hendak memetik dan menikmati buah rambutan itu.

            Masalah pura. Pura dibuat umat hindu sedemikian banyaknya adalah agar umat hndu selalu ingat dengan kebesaran Tuhan dimanapun mereka berada. Ingat yang dipuja dipura itu bukan Dewa, melainkan tetap Tuhan yang tunggal, walaupun sebutannya seakan” ditujukan kepada deva, seperti pura dalem, puseh, dll. Sebutan ini hanya ditujukan untuk penghargaan akan jasa para deva yang telah membantu manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Makanya di pura manapun orang bersembahyang, pasti dimulai dengan Tri Sandhya (fungsinya untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya), nah setelah itu baru dilakukan penghormatan kepada deva sesuai dengan puranya.

            Yang terakhir, Bukan menyembah Tuhan melalui para deva. Tapi, Menyembah Tuhan dengan dibantu oleh tuntunan dari para deva, itu maksudnya. Ini juga ada kaitanya dengan pembagian Sekte / Matsab seperti Vaisnawa, dan Siwasidanta. Yang dimaksud dengan sekte adalah garis perguruannya, bukan deva yg dipuja disana karena yg dipuja ya tetap Tuhan yg Tunggal dengan sebutan sesuai dengan kemaha kuasaanya. Masalah slokanya tidak usah sy jelaskan. pertanyaannya aja salah. tpi, law mau nyari sloka tentang “Menyembah Tuhan dengan dibantu oleh tuntunan dari para deva” ada di Bhagavad Gita sama di Reg Veda…… semuanya yg kami laksanakan ada kok di veda….. tdk ada kok yg bertentangan. makanya tetap saya imani agama Hindu. saya paham kenapa saudara bilang n nanya kayak gitu. Masalahnya kan saudara juga belum tahu apa” tentang Hindu….

            Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014

  2. kamu gak nerti yah? itu hanya penghoematan bagi para dewa……….kalo Tuhan puranya khusus.

    Comment by Made Inbagas | 7 June 2012 | Reply

  3. sy muslim yg terlahir dari campuran darah banten dan bali. Ayah sy seorang pengikut tasawuf/sufisme islam, sedang ibu saya dulu hindu – ida ayu wati/dayu bintang. Sering jg kami diskusi ttg filsafat2 hindu yg sangat tinggi,tp mulai ditinggal oleh generasi mudanya (sangat disayangkan). Di dlm agama kami pun, bnyk paham2 yg mulai bergeser, apalgi ttg pengertian jihad yg oleh Rasulullah diartikan melawan diri sendiri (nafsu) sdh bergeser pd bentuk2 yg memalukan kami para muslim. Mari kita bersama2 membangun negara ini dg keluhuran ajaran kita msg2, dan budaya tinggi leluhur2 kita dulu. Terima ksih untuk info nya. Wassalam.

    Comment by doni | 11 July 2012 | Reply

    • Ok…. ayo sma”….. om swastyastu

      Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014 | Reply

  4. @ doni. Kami sangat berterimakasih atas perhatian dan pengertiannya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan-tulisan diatas.Tiada maksud selain untuk kebersamaan dan persatuan antar umat sebagai satu Bangsa Indonesia yang beragama.

    Comment by vantehyologist | 11 July 2012 | Reply

  5. Jelaslah Dewa itu bukan Tuhan. Orang yang ingin menjadi cerdas, memuja Dewi Saraswati atau Dewa Ganesha. Orang yang ingin berbadan jasmani sehat memuja Dewa Surya, mereka yang ingin kaya menyembah Dewi Laksmi, Siwa, dan sebagainya. Jadi pemujaan kepada Dewa bukan berarti menyembah banyak Tuhan. Tuhan tetaplah satu, tidak ada duanya.

    Kesimpulan Saya : Berarti jika kita ingin cerdas, ingin sehat, ingin banyak rezeki, ingin kaya, dll. Berarti kita harus menyembah Dewa yang bersangkutan karena setiap keinginan kita tidak dapat dikabulkan oleh satu Dewa. Jadi tuhan tidak terlibat langsung kepada permintaan hambanya…

    Comment by bejo | 7 February 2013 | Reply

    • sesungguh nya, mereka berada di jalan yang sesat, saya saran kan kepada orang2 hindu untuk meninggal kan ajaran sesat nenek moyang mereka, dan masuk lah kedalam islam yang telah di ajarkan oleh nabi besar dan utusan Allah, Muhammad sallalahu alaihi wassalam. islam lah agama yang hak di sisi Allah, Tuhan semesta alam, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

      Comment by Andi | 20 May 2013 | Reply

      • Ups sory bro….. Hindu ndk gitu…. Tuhan tetap dipuja sebagai yg utama. nah, penghormatan terhadap deva (seperti Ganesa, dll) baru boleh d lakukan setelah memuja n memohon izin pada Tuhan. Makanya dlm agama hindu dinyatakan “siapapun yg mengucapkan doa/mantra, tanpa diawali dengan Gayatri Mantra (doa utama untuk mengagungkan kebesaran Tuhan) maka hasilnya akan sia-sia.” Bahkan dlm Hindu dijelaskan, orang yg menghormati para Deva tanpa Ingat dan tanpa Selalu memuja Tuhan, sesungguhnya ada di jalan yang keliru. Begitu…… Ok.. OK…. tpi law ada yg kurang jelas, silakan komen lagi.

        Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014 | Reply

  6. kamu semua berada di jalan yang sesat, sesungguh nya tiada tuhan yang hak di sembah melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. marilah semua kita masuk Islam.

    Comment by Andi | 20 May 2013 | Reply

    • islam menyatakan menyembah selain allah tapi kenapa anda jg menyembah muhamad???kami memiliki tuhan beserta juga utusannya para dewa…..jadi apabedanya islam dengan hindu yg menggunakan utusan????tolong anda jangn asal menjerumskan…sadari dlu diri anda dan agama anda bagaimana…….

      Comment by 87 | 3 November 2013 | Reply

      • Sejak 1500 tahun lalu, hingga detik ini, hingga menit ini, tidak ada 1 pun muslim yang haniff, yang kaffah, yang lurus, yang benar dan warra’ menyembah Rasulullah Muhammad. Beliau adalah manusia biasa, bukan Tuhan, Tidak Layak Disembah.

        Tidak pernah Allah memerintahkan manusia menyembah Nabi Muhammad. Tidak ada 1 perintah pun meski cuma 1 ayat di dalam Qur’an. Tidak ada.

        So.. how could you said that?? So.. come.. bring to me your proof if you are right people (“Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” : Surah Al-Baqarah : 111).

        Beliau sama dengan manusia lainnya, dan sama dengan para saudara-saudara pendahulunya (para nabi sebelum beliau)

        Mari kita berdiskusi baik-baik untuk mencari tau apa yang benar, bukan untuk mencari pembenaran.

        “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”. SQ. Al-Maidah: 73

        “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”. SQ. Al-Maidah: 72.

        Comment by yudhis | 4 November 2013 | Reply

        • Semnjak dunia ini belum diciptakan, sesungguhnya veda telah ada, anadi-ananta (Tidak berawal dan tidak berakhir). Dw, sy tanya dulu, memangnya Hindu mengajarkan untuk memuja selain Tuhan???? ingat, memuja beda dengan menhormati. Hindu hanya diajarkan untuk menghormati para deva, dan utama untuk memuja Tuhan yg Tunggal… dw qm kan juga menghormati nabi muhammad…. Lantas letak salahnya dmn ya?????? mohon jawabanya

          Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014 | Reply

  7. sesungguh nya, mereka berada di jalan yang sesat, saya saran kan kepada orang2 hindu untuk meninggal kan ajaran sesat nenek moyang mereka, dan masuk lah kedalam islam yang telah di ajarkan oleh nabi besar dan utusan Allah, Muhammad sallalahu alaihi wassalam. islam lah agama yang hak di sisi Allah, Tuhan semesta alam, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

    Comment by Andi | 20 May 2013 | Reply

  8. Kalau memuja tetap saja samanya aja menyembah, meminta kepada selain Allah, itu sudah termasuk Kesyirikan Besar, dan termasuk Politeisme.
    Tetap saja Hindu itu Politeisme. Gak jauh beda dengan Paganisme Arab Kuno dulu, mempercayai Latta, Manat, dan Uzza, akan tetapi Penyembah berhala mengatakan Tuhan cuman Satu2nya yang menciptakan, akan tetapi mereka tetap memuja Dewa-dewa dan meminta kepada Dewa-dewa. Samanya aja Politeisme.

    Comment by Saladin | 22 May 2013 | Reply

    • Hmmm, sok tau… berapa tahun belajar hindu masss????? Mungkin orangnya salah ketik. Tidak ada dlm veda ajakan untuk memuja deva. Yang ada hanya menghormati para deva. N juga dikatakan “siapapun yg memuja deva, sesungguhnya dia berada di jalan yang keliru. Namun pada akhirnya dia akan tetap kembali untuk memuja-Ku. (karena para deva akan menuntun mereka untuk kembali kepada-Ku)” ini ada dlm bhagavad gita.

      Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014 | Reply

  9. hindu itu monotheisme. bukan polytheisme

    Comment by caka priyandari | 2 August 2013 | Reply

  10. Dan yang mesti diksadari adalah bahwa dewa- dewi , bhatara -bhatari itu adalah kesatuan tak terpisahkan dengan Tuhan hyang maha Esa, karena Tuhan adalah semuanya.

    Comment by ambun | 9 August 2013 | Reply

  11. Kalau sekalian membaca vedas , segala soalan Akan terjawap.
    Hindu atau Nama sebenar Sanatana dharma , tuhan Hanya satu. Bezanya nirguna Brahman dan sarguna Brahman.
    Agama hindu tidak percaya kepada konsep Nabi.
    Agama hindu percaya kepada konsep kelahiran semula selepas mati sampai moksha. Orang barat kini ramai yang mengakui ini dan mereka turut percaya konsep hindu. Saya percaya suatu hari semua umat Islam akan sedar ini.

    Comment by Budi | 9 August 2013 | Reply

  12. Vedas ada empat. Rigveda, yajurveda, atharved dan sama veda. Banyak mantera sebut pasal tuhan ( iswar atau Brahman) paling tinggi. Tidak ada tuhan melainkan itu. Tidak ada satu mantera sebut tuhan lain. Vedas kini telah banyak terjemah dalam bahasa Inggeris utk rujukan seluruh umat hindu.
    Saya syorkan websie ini untuk para pembaja .
    Sila baca fakta sebenar agama hindu di
    Agniveer.com
    Agniveer.com
    Agniveer.com

    Comment by Budi | 9 August 2013 | Reply

  13. [Perihal Penyembahan]

    Jika memang Tuhan adalah sumber dari Segala Sesuatu, dan Maha Segala dari para dewa. Mengapa harus menyembah Tuhan melalui pemujaan para dewa?

    Tidakkah cukup hanya menyembah langsung kepada Tuhan Pemilik Semesta Alam Yang Maha Pemurah?

    ————

    [Urgensi Dewa-Dewi]

    Adakah secara jelas dan tegas dalam koleksi kitab weda Tuhan memerintahkan :

    -”Sembahlah Aku melalui perantaran para dewa” ??

    -”Ini lah nama-nama dewa yang Aku nyatakan kepadamu, kepada merekalah (dewa-dewa) Aku berkenan” ??

    -”Aku dan para dewa adalah satu, para dewa di dalam Aku dan Aku di dalam para dewa, dan para dewa adalah Aku sendiri Yang Maha Esa”
    (Seumpama ada ayat ini, maka akan semakin kontradiksi. 1+1+1+1+~=1=Irasional=polytheisme)

    -”Pada mulanya adalah Aku (Brahman), Aku bersama dengan dewa, para dewa perwujudanKu, dan dewa adalah Aku” ?? (Jika ada, maka ini juga sama, 1+1+1+~=1=yakni menambah Irasional=polytheisme)

    -Atau “Ini lah dewa-dewa yang Aku perantarakan bagiKu kepadamu (manusia), sembahlah mereka (dewa-dewa) maka engkau telah menyembahKu” ??

    Jika tidak ada ayat yang menyatakan demikian?
    Atau yang agak-agak menyerempet (semisal) yg demikian. Lantas untuk apa?

    Apa urgensi dewa-dewa tersebut?
    Terlebih jika sudah jelas Tuhan adalah sesuatu yang tak terwujud.

    Dengan adanya dewa-dewa, secara kasat dan nyata telah terjadi satu gap antara Tuhan dan manusia.

    Sedang secara hakikat, adakah Tuhan berjarak dengan makhlukNya? Tidak. Sesungguhnya Tuhan itu lebih dekat dari urat nadi manusia. Istilahnya “Jangan ada dewa diantara kita (Tuhan dan makhluk)”

    ————

    [Personifikasi Tuhan]

    Apakah setiap 1 nama/sifat dari Tuhan harus di sandingkan dengan sebuah perwujudan visual?

    Namun jika “Harus”, maka ayat apa yg akan disajikan untuk menjelaskannya?

    Adakah ayat yg tegas menyatakan :
    “Demi keagunganKu, nama dan sifatKu telah Aku rupa-wujudkan kepadamu (manusia) untuk kamu sekalian ketahui dan agar kamu ibadahi untukKu. Sungguh inilah ketetapanKu, ini lah jalan yang lurus” ??

    Atau sajikan 1 ayat yang semisalnya.

    Adakah??

    Jika tidak ada?
    Maka dari manakah sumber yang memerintahkan menyembah Tuhan melalui para dewa? Siapa yang mengajarkannya?

    Jika memang ada yang mengajarkannya, maka orang tsb telah bertentangan dengan kitabnya sendiri. Dan mengapa orang itu mengajarkannya sesuatu yang bertentangan?

    Lantas, mengapa ajaran yang bertentangan dengan kitab-kitab itu tetap diimani dan diikuti?

    Bagaimana bisa untuk dapat menjelaskan kebingungan tersebut? Jika ternyata tidak ada 1 ayat untuk di gunakan menyanggah.

    ———

    [Analogi Sederhana]

    Dalam konteks Tuhan/Ketuhanan, hemat saya begini :

    -Kita mau meminta uang dari si budi (misal : Tuhan). Kita tidak perlu minta lewat pembatunya (misal : dewa). Karena yang punya duit itu si Budi.

    -So, langsung saja bicara (Do’a) istilahnya face to face kepada Budi (Tuhan).

    -Penuhi persyaratan yang diberikanNya kepada kita (ketentuan dan hukum yang Tuhan cipta untuk manusia).

    -Maka jika telah dipenuhi dengan benar, niscaya uang pasti diberikan oleh si Budi (Do’a terkabul). [Namun sungguh Tuhan itu Maha Pemurah tiada mempersulit hamba yang dekat kepadaNya].

    Kira2 begitu analogi sederhananya.

    (Jika ada forumers lain yg ingin menambahkan analogi sejenis/semisal dipersilahkan).

    ——–

    Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan.

    Sekedar membangun diskusi yang dinamis dan terbuka.

    Dengan semangat mencari kebenaran, bukan pembenaran.

    #Salam.. :D

    Comment by Yudhis | 19 October 2013 | Reply

    • Mas, arti” dari ayat yang anda ambil itu, kebanyakan n bahkan 99% salah…… sy pernah membaca ayatnya. n artinya tidak seperti yg diatas. dw dpt drimn ya??

      Comment by Jaya Wikrama | 24 August 2014 | Reply

  14. Bukannya hindu menyembah sapi???

    Comment by OBAMA BIN LADEN | 20 October 2013 | Reply

    • tapi kami tidak menyembah tembok

      Comment by 87 | 3 November 2013 | Reply

      • Muslim hanya menyembah Allah Ta’ala. Itu lah yang di sebut Tauhid. Tidak ada perantara antara kami dengan Tuhan. Just be close to Him, so He will more.. and more.. close to us..

        No idol, no sculpture, no statue.. even no gap each other when we pray.
        Direct to Allah Ta’ala (Trancendental)

        Maka ketahui lah, di muka bumi, hanya Yahudi lah yang melakukan peribadahan di tembok ratapan Yerusalem. Ajaran yang tidak di ajarkan oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud Alaissalam. Bahkan tidak pula diajarkan oleh Nabiyullah Musa Alaihissalam yang di utus kepada kaum mereka terdahulu.

        Comment by yudhis | 4 November 2013 | Reply

        • No idol, no sculpture, no statue.. even no gap each other when we pray.
          Direct to Allah Ta’ala (Trancendental), bisa dibilang muslim bisa beribadah tanpa perantara… lalu kenapa mesti ke mesjid? kan g usah bangun mesjid, dr rumah az bisa…

          Comment by wayan | 24 April 2014 | Reply

          • Izinkan saya untuk menanggapi secara komprhensif…..

            Secara bahasa,
            Masjid, adalah tempat bersujud, oleh karena itulah ia dikatakan Masjid.

            Lalu kenapa harus ke Masjid?

            Secara kaidah,
            Masjid adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin dalam melaksnakan shalat secara berjama’ah.

            Kenapa?

            Sebab Rasulullah selama berda’wah, mencontohkannya kepada kami demikian.

            Kenapa?

            Sebab Rasulullah sebaik-baik suri teladan (Contoh dan Role Model) bagi manusia. Allah berfirman:
            “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

            Secara simbolik,
            Masjid hakikatnya sebagai lambang persatuan kaum Muslimin. Ini dapat dilihat dari sejarah Islam, dimana para para Khalifah Islam dan bahkan Khulafur Rasyidin memecahkan strategi kemaslahatan kaum muslimin dan penduduk non-muslim yang bernaung di bawah Khalifah Islam di Masjid.

            Khulafur Rasyidin (4 Amirul Mu’minin pertama) :
            1. Sayyid Abu Bakr’ R.a
            2. Sayyid Ummar R.a
            3. Sayyid Ustman bin Affan R.a
            4. Sayyid Ali bin Abi Thalib R.a
            Hingga keruntuhannya pada 3 Maret 1924, Kehalifahan Islam terakhir, Khalifah ‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M). Dikudeta oleh tangan kotor Kammal Attaturk Pasha yg disokong oleh Inggris dan Zionisme.
            La’natullah.. Adzabillah Syadid…

            Kembali ke topik:

            Namun terdapat keringanan bagi mereka yg misal dalam perjalanan bila/dikarenakan tidak ada Masjid yang dapat ditempuh.

            Contoh:

            -Jama’ah haji diperbolehkan shalat di dalam pesawat.

            -Penumpang di dalam bis, dimana jika bis tersebut tidak memungkinkan untuk berhenti menuju Masjid.

            -Pengembara di gurun pasir (Saat ini sudah jarang ditemukan) diperbolehkan.

            -Pelaut, karena tidak mungkin ada Masjid di tengah laut, maka boleh untuk Shalat di atas kapal.

            -Bahkan sekalipun shalatnya seorang Muslim tidak menghadap Makkah atau tidak dalam keadaan yg seharusnya (Sambil duduk atau berbaring) karena dalam perjalanan atau sakit terbaring di RS atau dirumahnya atau dimanapun ketika situasi tidak memungkinkan

            -Dan lain sebagainya…… yang diperbolehkan secara syar’i.

            Itu semua diperkenankan sebagai keringanan. Sebab sebegitu pentingnya nilai sebuah Shalat seorang muslim.

            Dalam Islam, Shalat itu indikator baik/buruknya seseorang. Bahkan ia adalah tiang agama.

            Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
            رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
            “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

            Shalat pencegah keburukan dan kemungkaran. Allah berfirman:
            “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

            Namun harus diketahui, sebagai indikatornya:

            Jika orang yg telah shalat, tapi dirinya belum benar, maka shalatnya dapat dipastikan juga belum benar. Dan sebaliknya.

            Karena Shalat kita yang “bermasalah”, shalat kita belum beres, bahkan masih bolong-bolong. Subuh shalat, dzhuhur bolong, Ashar shalat, megribnya bolong. Belum menghayati, belum sadar penuh makna shalat, itulah arti “Shalatnya belum Khusyuk”.

            Jadi bukan ritual shalatnya yang bermasalah. Namun kitanya sendiri yang bermasalah.

            Bahkan dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah telah bersabda, yang hadisnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
            Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

            Anda pasti ingat lagu GIGI :
            Pagi beriman, siang lupa lagi
            Sore beriman, malam amnesia
            Pagi beriman, siang lupa lagi
            Sore beriman, malam amnesia

            Di atas itu hadisnya….

            Ini adalah bukti bahwa Islam itu mudah, tapi jangan “dimudah-mudahkan”.

            Di antaranya firman Allah Ta’ala:
            “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
            “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu.” (QS. An-Nisa`: 28)
            “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)

            Kemudian Rasulullah bersabnda:

            Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu secara marfu’ mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
            “Aku diutus dengan membawa agama yang bertauhid lagi mudah.” (HR. Ahmad: 5/266 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2924)

            Dari Abu Qatadah dari seorang Badui yang mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
            “Sebaik-baik perkara agama kalian adalah yang paling mudah urusannya, sungguh sebaik-baik perkara dien kalian adalah yang paling mudah urusannya.” (HR. Ahmad: 3/852 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 124)

            Namun terlepas dari keringan tersebut, Shalat berjama’ah di Masjid lebih utama derajatnya di sisi Allah Ta’ala..

            Sebagai informasi lainnya:
            Jauh sebelum di utusnya Nabi Muhammad SAW, telah diwajibkan juga kepada masing-masing kaum dari para Nabi dan Rasul untuk beribadah ditempat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Dan setelah di utusnya Rasulullah Muhammad SAW, seluruh manusia diperintahkan untuk berhimpun di dalam Islam dan berbaiat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.

            Beliaulah Rasulullah Muhammad SAW, The Last Kalki Awtar, seseorang yang berayah bernama SYANUYIHKAT dan beribu SUMANEB, yang lahir di Shambala (Negeri yang aman), yakni Makkah.

            Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN. Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH”.

            Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya MINAH.

            Semoga informasi ini dapat berkenan.
            Anggap saja ini sebagai pertukaran Informasi pencerahan sehingga dialog positif bisa lebih terbangun. Itu harapan dari hati terdalam.

            Salam Alaikum..

            Comment by yudhistiyo | 24 April 2014

  15. Sudah ada awan berbentuk lafadz allah, lafadz allah lainnya pun banyak bermunculan, ada tumbuhan yang bersujud, suara adzan di luar angkasa, ayat ayat di al quran pun banyak yang sudah terbukti kebenarannya, sudah banyak bukti bukti keagungan allah swt. Mohon dipertimbangkan

    Comment by yoga | 18 November 2013 | Reply

    • menurut anda apakah Allah itu sama dengan Sang Hyang Widhi?
      jika sama berarti bukti2 itu juga milik umat hindu, jika menurut anda beda berati anda yg menduakan Allah

      Comment by wayan | 24 April 2014 | Reply

      • Dear Mas Wayan

        Monggo dilihat link yang saya berikan..
        Mungkin tidak menjawab 100%
        At least bisa sedikit mencerahkan..

        Watch “If hindu pray in to the temple does God listen to…” on YouTube – If hindu pray in to the temple does God listen to…: http://youtu.be/RPLdZQLHqMI

        Comment by yudhistiyo | 25 April 2014 | Reply

  16. Untukku agamaku, dan untukmu agamamu. Jangan lupakan Bhineka tunggal ika!!!!!

    Comment by yoga | 18 November 2013 | Reply

    • Diskusi ini untuk membandingkan paham agama,bukan tuk saling menyalahkan

      Comment by KaL EL | 14 July 2014 | Reply

    • iya kami setuju….
      SEMUA AGAMA TIDAK SAMA…!!!
      lebih baik tdk usah diomongken…

      Comment by Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH. | 24 July 2014 | Reply

  17. @yoga,,jika ayat sucimu benar, knp ayat suci mu menyebutkan bumi ini datar, kitab suci weda mengatakan bahwa bumi ini bulat..knp kitab sucimu bisa salah ya, katanya agama dri langit,agama buatan tuhan,,,mohon dipertimbangkan, mohon dipikirkan tpi jangan smpai stressssss ya…….hehehehehehe

    Comment by edi | 19 May 2014 | Reply

    • Dear mas edi

      Mohon kiranya bisa disajikan, Qur’an surah dan ayat keberala yang menyatakan bahwa bumi itu datar?. Supaya bisa lebih jelas diskusinya.

      Comment by yudhistiyo | 25 June 2014 | Reply

    • AGAMA GEBLEK, MASAK BUMI DIBILANG DATAR, WKWKWKWK…………..

      Comment by Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH. | 24 July 2014 | Reply

  18. perbedaan antara Tuhan dan Dewa hanya terikat pada wujud. Untuk mencapai menyadari Tuhan tanpa wujud perantara nya adalah Tuhan dengan wujud yang disebut dewa. Dewa sendiri dilambangkan dengan sifat-sifat Tuhan Sendirii.

    Comment by keshia | 23 June 2014 | Reply

  19. Tidak ada agama mu dan agamaKu. Satu agama yang ada adalah cinta kasih. Tuhan hanya satu tergantung kesadaran masing-masing untuk menerima kehadiran Tuhan. Tuhan yang ada didalam dirimu, diriku dan seluru antero alam ini adalah sama, Jangan sampai agama menjadi perpecahan.

    Comment by ke | 23 June 2014 | Reply

  20. kenapa tidak langsung memohon ber doa kpd ALLAH SWT,(TUHAN) kenapa melalui perantaraan Dewa.

    Comment by KaL EL | 14 July 2014 | Reply

    • BANYAK BACOT LOE NANYA MULU, KALOK PENGEN TAU AYOK MASUK HINDU SARENG SINAMIAN….

      Comment by Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH. | 24 July 2014 | Reply

  21. hindu/sanathana dharma adl AGAMA YANG PANTHEISME… (lihat pen. Prof. Dr. Ngakan Madrasutha)
    tdk sprti islam/kristen yg menghanggap Tuhan ada di langit ke 7, namun Beliau ada dimana2 dan ada di dalam hati setiap manusia/ciptaannya, sungguh indah…..
    Om Namah Ciwa….
    ——– bagi yg nanya2 kalo penasaran marilah kita masuk hindu ———-

    Comment by Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH. | 24 July 2014 | Reply

  22. mw tanyak knp di hindu masih ad berbeda pndapat,prbedaan yang pling besar adlah antar pemuja siwa n wisnu,disna tampak banget saling klaim yang tertinggi,knapa gak bersatu saja???klw mnurut anda siapa yg terbaik antara wisnu dan siwa,di krisna wisnulah yg tertinggi tp di siwa ,siwalah yang tertinggi,maunya apa??gimana kalau pemilu aja mana yang terbaik …

    Comment by puji nugroho | 4 August 2014 | Reply

    • Itu karena perkembangan peradaban bro,,, manusialah yg menempatkan tertinggi atau terendah itu,,, tp secra khusus baik wisnu siwa ataupun brahma adalah sama,, sesungguhnya mreka adalah dewa atau malaikat yg ditugaskan Tuhan menjaga alam semesta ini,,

      Tak kasi contoh,, masyarakat petani untuk mendapatkan anugerah hasil yg melimpah mreka memuja dewi sri atau pasangan dewa wisnu,m sehingga mreka lebih banyak membuat upacara untuk dewa wisnu n manifestasi dewa wisnu lainnya,, lambat laut anak cucu mreka menganggap sangat penting memuja dewa wisnu sehingga dianggap yg paling tinggj,,

      Lain halnya penguasa, mreka memuja dewa siwa untuk meminta anugrah kesaktian atau keabadian sehingga dewa siwalah yg paling sering di sembah,,,

      Begitu jg yg lainnya,,,

      Sehingga dengan berjalannya peradaban terjadi sekta2 aliran pada satu dewa tertinggi pada kelompok msyarakat tertemtu,,

      Seperti itu mungkin telaahnya,,
      A
      Ingat dewa itu merupakan malaikat pembantu tuhan,, mreka pun tidak bisa membayanbkan tuhan itu seperti apa,, seperti kita manusia tidak bisa membayangkan tuhan itu sendiri,,

      Kita manusia memuja dewa lebih pada ucapan terima kasih atas anugrah yg diberikan

      Sama seperti kita berterimakasih pada guru kita sendiri yg mengajar kita,,, padahal ilmu yg kita dapt sebenarnya pemberian Tuhan,,

      Coba pikir kenapa kita ga cukup berterima kasih sama Tuhan saja? Knpa mesti jg kepada guru kita?
      Seperti itulah umat hindu memuja dewa,,

      Terima kasih

      Comment by Wawan | 4 August 2014 | Reply

  23. Gini aj kawan terlepas dari apapun ajarannya, mari kita introspeksi diri, baik itu mono ataupun poli, yg terpentung bagaimana kita menjalankan ajaran agama kita masubg2..

    Agama diciptakan melalui peradaban,,
    Mari kita beragama yg baik,, tunjukkan kebaikan agamamu,,
    Contoh bali,, dimana kerukunan agama nya kuat..
    Tak ada satupun agama yg memerintahkan kita berbuat jahat..

    Lihat substansialnya,, jgn berpikiran dangkal tentnag agama, mari kita bersama saling merangkul,, biarkan urusan agama itu urusan pribadi..

    Saya sendiri Hindu saya percaya 1 Tuhan,, menurut yg saya baca n dengarkan dewa ibaratkan malaikat seperti pada agama kristen maupun islam,,, knpa org hindu menyembah dewa ibaratkan kita berterima kasih kepada dewa/ malaikat itunsendiri,,,

    Knpa ad pertentangan mana dewa tertinggi ato terendah itu akibat perjalanan peradabban manusia itu sendiri,,, manusilah yg menempatkan dewa itu,, pdahal di mata Tuhan dewa itu sama dengan fungsinya masing2,,, sperti pencipta disebut dewa brahma, pemelihara wisnu dan pelebur siwa,,,

    Sama seperti aliran pada islam ada s’yah atu sunni itu sendiri,, ato kristen protestan atau kristen katolik

    Nah di hindu jg seperti itu,, itulah perkembanban peradaban manusia yg men jadikannya tersekta2 seperti itu,,

    Untuk pura sendiri memang betul di dedikasikan pada dewa tertuntu tiap pura,, tp jagn salah di tiap pura dewa itu sendiri ada sebuah pelinggih/stana/ bangunan khusus untuk memuja Tuhan tunggal disamping ada bangunan untuk dewa yg dipuja di pura itu. Nama bangunannya pelinggih PADMASANA,,

    Padmasana merupakan bangunan yg berbentuk candi dengan badan menjulang tunggi terdapat singgasana kosong diatasnya,,

    Coba lihat pura di luar bali pasti hanya berisi padmasana saja,,, yg spesifik hanya nyak di bali,,, krana kompleks bermsyarakat di bali yg mengakar budayanya,,,

    Comment by Wawan | 4 August 2014 | Reply

  24. kalau syiwa dan wisnu dan brahma perang siapa ya yang menang?????

    Comment by atheis | 10 August 2014 | Reply

  25. ANDA PUTUS SEKOLAH / KULIAH ?!
    MEMBUTUHKAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH ?! INGIN MERUBAH MASA DEPAN MENJADI JAUH LEBIH BAIK ?!
    ATAU ANDA MEMBUTUHKAN DOKUMEN PENTING LAIN ?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP UNTUK MELAYANI DAN MEMBANTU KESULITAN ANDA UNTUK MEMENUHI DOKUMEN DOKUMEN PENTING YANG ANDA BUTUHKAN.

    PELAYANAN KAMI PROFESIONAL KARENA KAMI AKAN MEMBERIKAN BUKTI, BUKAN SEKEDAR JANJI.
    DOKUMEN YANG KAMI SEDIAKAN AMAN – TERDAFTAR DAN TIDAK AKAN ADA MASALAH DIKEMUDIAN HARI KARENA UNTUK KEAMANAN LEGALITAS KAMI BERANI MENJAMIN.
    RAHASIA IDENTITAS PEMESAN AKAN KAMI PASTIKAN AMAN DAN TERJAGA .
    AMAN UNTUK MELANJUTKAN JENJANG PENDIDIKAN. AMAN UNTUK MELAMAR KERJA. AMAN UNTUK TEST CPNS.
    AMAN UNTUK MASUK TNI / POLRI

    DAFTAR HARGA IJAZAH SEKOLAH / UNIVERSITAS :
    IJAZAH SD : 4.000.000
    IJAZAH SLTP : 4.000.000
    IJAZAH SMU : 4.000.000
    IJAZAH D3 : 6.000.000
    IJAZAH S1 : 8.000.000
    IJAZAH S2 : 16.000.000

    UNTUK INFORMASI LEBIH JELAS SILAHKAN ANDA KIRIM PERTANYAAN MELALUI EMAIL : 085736927001.ku@gmail.com
    ATAU SMS KE : 085736927001

    KAMI AKAN BERUSAHA MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI KARENA KEPERCAYAAN YANG ANDA BERI AKAN MEMBANGUN KINERJA TERBAIK KAMI.

    Comment by Bapak Guru | 28 August 2014 | Reply

  26. Dalam prakteknya begitu. Seolah dewa2 tuhan pula, walau mungkin awalnya penampakan 1 tuhan kemudian di anggap pribadi yang lain maka menyimpang. Dalam islam Pun seandainya antara ar-rohman dan ar-rohim dua pribadi berbeda atau punya kehidupan pribadi terpisah , maka orang itu telah tersesat sejauh jauhnya.

    Comment by Aki nolednad | 1 September 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: